Kini, kita sudah mengetahui bahwa manusia merupakan makhluk ekonomi sekaligusmakhluk sosial. Artinya, manusia tidak boleh bertindak hanya memikirkan keuntungan bagi dirinya saja, tetapi ia juga harus mempunyai pertimbangan-pertimbangan sosial. Ada kalanya kita memang harus mengambil keuntungan dari orang lain. Tetapi, ada kalanya juga kita harus bertindak tanpa mengharapkan balasan dari orang lain. Kedua sikap ini harus kita lakukan pada saat yang tepat.
Contoh, kamu memberikan pinjaman uang kepada temanmu untuk kepentingan usaha. Kamu tentu mengharapkan uang tersebut dikembalikan ditambah dengan bunga pinjamannya. Hal ini dapat kamu lakukan karena temanmu akan mendapat keuntungan dari usaha yang dijalankannya sehingga ia mampu meningkatkan kesejahteraannya dari uang yang kamu pinjamkan. Lain halnya jika kamu meminjamkan uang untuk membantu temanmu yang mendapat musibah, seperti kebakaran, kebanjiran, atau kematian. Kamu tentu tidak akan mengharapkan balasan.
Kita memang boleh saja selalu memikirkan keuntungan atau kerugian yang akan kita terima dalam bentuk uang. Tetapi, kita harus ingat bahwa tidak semua yang ada di dunia ini dapat dinilai dengan uang. Pada kegiatan gorong royong, misalnya, kita tidak perlu meminta bayaran karena kita sudah memberikan tenaga. Kita memang tidak mendapatkan uang dari kegiatan gotong royong, tetapi kita dapat bergaul dan mengenal tetangga lebih dekat lagi. Selain membutuhkan uang karena manusia bertindak sebagai makhluk ekonomi, kita juga membutuhkan hal-hal lain yang tidak berupa uang, seperti persahabatan atau rasa persaudaraan. Jadi, kita tidak harus selalu semata-mata menjadi makhluk ekonomi dengan alasan atau kondisi tertentu.
Showing posts with label ekonomi. Show all posts
Showing posts with label ekonomi. Show all posts
Thursday, March 24, 2016
Manusia sebagai Makhluk Ekonomi (Homo Economicus)
Kamu mungkin sering membantu orang tua berbelanja di pasar. Pernahkah kamu memerhatikan tingkah laku penjual dan pembeli yang kamu temui di pasar? Penj ual menawarkan barang dagangannya dengan harga tinggi, sementara pembeli berusaha memperolehnya dengan harga murah. Lalu, apa yang terjadi? Kamu tentu melihat terjadi tawar-menawar antara penjual dan pembeli. Seringkali tawar-menawar ini berlangsung cukup lama karena masing-masing penjual dan pembeli tidak mau mengubah harga yang mereka inginkan. Namun, tak jarang tawar-menawar ini berlangsung cepat karena harga yang diharapkan penjual dan pembeli sudah tercapai.
Pembeli dan penjual selalu berusaha memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Keuntungan bagi penjual ialah jika menjual barang dagangannya sebanyakmungkin dengan harga setinggi mungkin dibandingkan dengan modal yang telah dikeluarkannya. Sebaliknya, keuntungan bagi pembeli ialah ia dapat membeli barang kebutuhan sebanyak mungkin dengan sejumlah uang yang dia miliki. Caranya, ia akan mencari barang dengan harga semurah mungkin sehingga ia dapat membeli barang dan jasa dalam jumlah yang lebih banyak lagi.
Misalnya, kamu ingin membeli buku tulis. Toko A menjual buku tulis Rp4.000,00 per buah, sedangkan Toko B menjualnya Rp2.000,00 per buah. Nah, toko mana yang kamu datangi? Kamu pasti membeli buku tulis di Toko B karena kamu akan mendapat dua buah buku tulis dengan uang Rp4.000,00.
Dalam kegiatan sehari-hari, manusia akan selalu berusaha mencari keuntungan bagi dirinya. Itu hanya sebagian contoh kecil mengenai kejadian yang sering kita alami. Dari contoh tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa manusia akan melakukan pertimbangan-pertimbangan mengenai keuntungan atau kerugian yang akan diperolehnya sebelum melakukan suatu tindakan. Manusia cenderung untuk mengambil tindakan yang akan mendatangkan keuntungan lebih banyak atau kerugian lebih sedikit bagi dirinya. Hal ini menyebabkan manusia sering disebut sebagai makhluk ekonomi (homo economicus), yaitu makhluk yang bertindak dengan penuh perhitungan rasional dan selalu berusaha mencari keuntungan bagi dirinya. Dari pengertian tersebut, berarti manusia sebagai makhluk ekonomi mempunyai ciri-ciri rasional, konsisten, individualistis, dan selalu ingin mencari keuntungan.
Pembeli dan penjual selalu berusaha memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Keuntungan bagi penjual ialah jika menjual barang dagangannya sebanyakmungkin dengan harga setinggi mungkin dibandingkan dengan modal yang telah dikeluarkannya. Sebaliknya, keuntungan bagi pembeli ialah ia dapat membeli barang kebutuhan sebanyak mungkin dengan sejumlah uang yang dia miliki. Caranya, ia akan mencari barang dengan harga semurah mungkin sehingga ia dapat membeli barang dan jasa dalam jumlah yang lebih banyak lagi.
Misalnya, kamu ingin membeli buku tulis. Toko A menjual buku tulis Rp4.000,00 per buah, sedangkan Toko B menjualnya Rp2.000,00 per buah. Nah, toko mana yang kamu datangi? Kamu pasti membeli buku tulis di Toko B karena kamu akan mendapat dua buah buku tulis dengan uang Rp4.000,00.
Dalam kegiatan sehari-hari, manusia akan selalu berusaha mencari keuntungan bagi dirinya. Itu hanya sebagian contoh kecil mengenai kejadian yang sering kita alami. Dari contoh tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa manusia akan melakukan pertimbangan-pertimbangan mengenai keuntungan atau kerugian yang akan diperolehnya sebelum melakukan suatu tindakan. Manusia cenderung untuk mengambil tindakan yang akan mendatangkan keuntungan lebih banyak atau kerugian lebih sedikit bagi dirinya. Hal ini menyebabkan manusia sering disebut sebagai makhluk ekonomi (homo economicus), yaitu makhluk yang bertindak dengan penuh perhitungan rasional dan selalu berusaha mencari keuntungan bagi dirinya. Dari pengertian tersebut, berarti manusia sebagai makhluk ekonomi mempunyai ciri-ciri rasional, konsisten, individualistis, dan selalu ingin mencari keuntungan.
Manfaat Perhitungan Pendapatan Nasional
Untuk mengetahui perkembangan atau pertumbuhan perekonomian suatu negara, indikator yang dapat digunakannya, yaitu dengan melihat kondisi pendapatan nasional suatu negara tersebut. Banyaknya kegiatan pembangunan ekonomi, dapat mcnekannya laju pertumbuhan pcnduduk, mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran adalah salah satu proses pertumbuhan ekonomi dalam mencapai kesejahteraan masyarakat. Selain itu, adanya perubahan struktur sosial dan sikap mental masyarakat merupakan proses pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, semakin banyak masyarakat menghasilkan barang dan jasa, akan semakin meningkat pula pendapatan nasionalnya. Semakin besar pendapatan nasional, semakin besar pertumbuhan ekonomi. Adapun manfaat mempelajari pendapatan nasional, yaitu sebagai berikut.
1. Mengukur tingkat kemakmuran suatu negara. Besar kecilnya pendapatan nasional suatu negara merupakan tolok ukur tercapainya tingkat kemakmuran suatu negara. Semakin tinggi pendapatan nasional suatu negara, semakin tinggi tingkat kemakmurannya. Sebaliknya, semakin rendah pendapatan nasionalnya, setnakin rendah tingkat kemakmuran suatu negara tersebut.
2. Mendapatkan data-data terperinci mengenai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara selama satu periode.
3. Data pendapatan nasional dapat digunakan untuk menggolongkan suatu negara menjadi negara industri, pertanian, atau negara jasa.
4. Data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi berbagai sektor perekonomian terhadap pendapatan nasional, misalnya sektor pertanian, pertambangan, industri, perdagangan, atau jasa.
5. Untuk membandingkan kemajuan perekonomian dari waktu ke waktu, membandingkan perekonomian antarnegara atau antardaerah, dan sebagai landasan perumusan kebijakan pemerintah.
1. Mengukur tingkat kemakmuran suatu negara. Besar kecilnya pendapatan nasional suatu negara merupakan tolok ukur tercapainya tingkat kemakmuran suatu negara. Semakin tinggi pendapatan nasional suatu negara, semakin tinggi tingkat kemakmurannya. Sebaliknya, semakin rendah pendapatan nasionalnya, setnakin rendah tingkat kemakmuran suatu negara tersebut.
2. Mendapatkan data-data terperinci mengenai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara selama satu periode.
3. Data pendapatan nasional dapat digunakan untuk menggolongkan suatu negara menjadi negara industri, pertanian, atau negara jasa.
4. Data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi berbagai sektor perekonomian terhadap pendapatan nasional, misalnya sektor pertanian, pertambangan, industri, perdagangan, atau jasa.
5. Untuk membandingkan kemajuan perekonomian dari waktu ke waktu, membandingkan perekonomian antarnegara atau antardaerah, dan sebagai landasan perumusan kebijakan pemerintah.
Perilaku Manusia dalam Memenuhi Kebutuhan
Salah satu ciri manusia ialah sebagai makhluk sosial (homo socius). Artinya, kita membutuhkan manusia lainnya dalam menjalani kehidupan. Bahkan sejak lahir, kita sudah membutuhkan pertolongan orang lain. Pada saat akan melahirkan, Ibu membutuhkan supir untuk mengantarnya ke rumah sakit. Pada saat persalinan pun, Ibu membutuhkan bantuan dokter atau bidan.
Sekarang, coba kamu amati barang-barang yang kamu pakai ke sekolah. Lihatlah mulai dari ujung kaki sampai ke atas kepala kamu. Adakah di antara barang-barang tersebut yang kamu buat sendiri? Tidak ada satu pun. Semua barang-barang tersebut kamu peroleh dari orang lain dengan cara membeli.
Contoh lain yang paling mudah ialah pada saat kita ingin memotong rambut. Dapatkah kamu melakukannya sendiri? Memang dapat saja kita memotong sendiri, tetapi lihat hasilnya. Kamu mungkin tidak akan pernah berani keluar rumah karena hasil potongan rambutmu tidak beraturan. Nah, agar potongan rambut kita rapi dan sesuai model yang kita inginkan, kita membutuhkan bantuan tukang gunting rambut. Begitu pula bila tukang gunting rambut jatuh sakit, ia juga membutuhkan dokter.
Jika seseorang hanya menghasilkan atau membuat satu atau beberapa jenis barang dan jasa sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, orang tersebut dikatakan telah melakukan spesialisasi. Spesialisasi juga berarti adanya pembagian tugas atau pekerjaan tertentu yang hanya dilakukan orang tertentu. Misalnya, pekerja di pabrik pakaian jadi. Ada yang bertugas memasang kancing, menyeterika, melipat, dan bertugas mengepak barang sebelum dikirimkan.
Spesialisasi tidak hanya terbatas pada manusia secara individu atau perorangan, tetapi juga pada suatu negara. Misalnya, Indonesia merupakan wilayah tropis yang menghasilkan banyak rempah-rempah, sedangkan hasil industrinya masih sedikit. Sebaliknya, negara-negara di Eropa memiliki tenaga kerja yang berpendidikan tinggi sehingga mereka mampu menghasilkan barang-barang industri berkualitas tinggi pula. Tetapi, wilayahnya tidak dapat ditanami rempah-rempah. Dengan demikian, Indonesia dapat menjual rempah-rempah ke Eropa dan hasilnya digunakan untuk membeli barang-barang industri. Jadi, keuntungan yang diperoleh melalui spesialisasi ialah kita dapat memperoleh suatu barang dengan mutu baik dan dengan harga yang lebih murah.
Kita tidak dapat menghasilkan semua barang dan jasa yang dibutuhkan. Akibatnya, manusia atau negara akan memiliki ketergantungan dengan manusia dan negara lainnya. Kemudian, masing-masing akan melakukan pertukaran yang dikenal dengan istilah perdagangan.
Pada mulanya, perdagangan dilakukan dengan cara menukar satu barang dengan barang lainnya. Kegiatan perdagangan seperti ini disebut barter. Misalnya, petani yang mempunyai beras membutuhkan pakaian. Berarti, petani tersebut harus mencari orang lain yang menghasilkan pakaian sekaligus juga membutuhkan beras. Jika ada orang yang mempunyai pakaian, ia membutuhkan sepatu, berarti dia tidak mau menukar pakaiannya dengan petani. Pemilik pakaian hanya mau melakukan barter dengan pemilik sepatu. Sebaliknya, pemilik sepatu juga harus membutuhkan pakaian supaya sepatunya dapat ditukar dengan pakaian. Dapatkah kamu bayangkan bagaimana sulitnya perdagangan dengan cara barter tersebut?
Pada saat ini, perdagangan dengan cara barter sudah sangat jarang dilakukan karena jumlah barang-barang semakin banyak. Untuk mempermudah kegiatan perdagangan, sekarang kita menggunakan uang dalam perdagangan. Jika kamu membutuhkan buku tulis, kamu hanya perlu membawa uang dan menukarkan uang tersebut dengan buku tulis di toko buku. Kamu tidak perlu bingung mencari orang yang mempunyai buku tulis dan mau menukarkan bukunya dengan barang-barang yang kamu miliki.
Uang dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang diterima masyarakat secara umum sebagai alat pembayaran. Dengan menggunakan uang, kita akan mudah melakukan perdagangan.
Sekarang, coba kamu amati barang-barang yang kamu pakai ke sekolah. Lihatlah mulai dari ujung kaki sampai ke atas kepala kamu. Adakah di antara barang-barang tersebut yang kamu buat sendiri? Tidak ada satu pun. Semua barang-barang tersebut kamu peroleh dari orang lain dengan cara membeli.
Contoh lain yang paling mudah ialah pada saat kita ingin memotong rambut. Dapatkah kamu melakukannya sendiri? Memang dapat saja kita memotong sendiri, tetapi lihat hasilnya. Kamu mungkin tidak akan pernah berani keluar rumah karena hasil potongan rambutmu tidak beraturan. Nah, agar potongan rambut kita rapi dan sesuai model yang kita inginkan, kita membutuhkan bantuan tukang gunting rambut. Begitu pula bila tukang gunting rambut jatuh sakit, ia juga membutuhkan dokter.
Jika seseorang hanya menghasilkan atau membuat satu atau beberapa jenis barang dan jasa sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, orang tersebut dikatakan telah melakukan spesialisasi. Spesialisasi juga berarti adanya pembagian tugas atau pekerjaan tertentu yang hanya dilakukan orang tertentu. Misalnya, pekerja di pabrik pakaian jadi. Ada yang bertugas memasang kancing, menyeterika, melipat, dan bertugas mengepak barang sebelum dikirimkan.
Spesialisasi tidak hanya terbatas pada manusia secara individu atau perorangan, tetapi juga pada suatu negara. Misalnya, Indonesia merupakan wilayah tropis yang menghasilkan banyak rempah-rempah, sedangkan hasil industrinya masih sedikit. Sebaliknya, negara-negara di Eropa memiliki tenaga kerja yang berpendidikan tinggi sehingga mereka mampu menghasilkan barang-barang industri berkualitas tinggi pula. Tetapi, wilayahnya tidak dapat ditanami rempah-rempah. Dengan demikian, Indonesia dapat menjual rempah-rempah ke Eropa dan hasilnya digunakan untuk membeli barang-barang industri. Jadi, keuntungan yang diperoleh melalui spesialisasi ialah kita dapat memperoleh suatu barang dengan mutu baik dan dengan harga yang lebih murah.
Kita tidak dapat menghasilkan semua barang dan jasa yang dibutuhkan. Akibatnya, manusia atau negara akan memiliki ketergantungan dengan manusia dan negara lainnya. Kemudian, masing-masing akan melakukan pertukaran yang dikenal dengan istilah perdagangan.
Pada mulanya, perdagangan dilakukan dengan cara menukar satu barang dengan barang lainnya. Kegiatan perdagangan seperti ini disebut barter. Misalnya, petani yang mempunyai beras membutuhkan pakaian. Berarti, petani tersebut harus mencari orang lain yang menghasilkan pakaian sekaligus juga membutuhkan beras. Jika ada orang yang mempunyai pakaian, ia membutuhkan sepatu, berarti dia tidak mau menukar pakaiannya dengan petani. Pemilik pakaian hanya mau melakukan barter dengan pemilik sepatu. Sebaliknya, pemilik sepatu juga harus membutuhkan pakaian supaya sepatunya dapat ditukar dengan pakaian. Dapatkah kamu bayangkan bagaimana sulitnya perdagangan dengan cara barter tersebut?
Pada saat ini, perdagangan dengan cara barter sudah sangat jarang dilakukan karena jumlah barang-barang semakin banyak. Untuk mempermudah kegiatan perdagangan, sekarang kita menggunakan uang dalam perdagangan. Jika kamu membutuhkan buku tulis, kamu hanya perlu membawa uang dan menukarkan uang tersebut dengan buku tulis di toko buku. Kamu tidak perlu bingung mencari orang yang mempunyai buku tulis dan mau menukarkan bukunya dengan barang-barang yang kamu miliki.
Uang dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang diterima masyarakat secara umum sebagai alat pembayaran. Dengan menggunakan uang, kita akan mudah melakukan perdagangan.
Pengukuran Inflasi
Ada beberapa indikator ekonomi yang digunakan untuk mengetahui laju inflasi selama periode tertentu, yaitu sebagai berikut.
a. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index atau CPI)
Indek Harga Konsumen (IHK) adalah indeks harga yang mengukur biaya sekelompok barang dan jasa di pasar termasuk harga-harga makanan, pakaian, perumahan, transportasi, perawatan, kesehatan, pendidikan, dan komoditi lain yang dibeli untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan indeks harga konsumen dapat dihitung berapa besarnya kenaikan harga-harga secara umum dalam periode tertentu (1 bulan, 3 bulan, atau 1 tahun).
b. Indeks Harga Produsen (Producer price Index atau PPI)
Indeks Harga Produsen adalah suatu indek dari harga-harga bahan baku (raw materials), produk antara (intermediate products), dan peralatan modal mesin yang dibeli oleh sektor bisnis atau perusahaan. Jadi, PPI hanya mencakup bahan baku, dan barang antara, atau setengah jadi saja. Sementara barang-barang jadi tidak dimasukan ke dalam perhitungan.
Indeks harga produsen ini digunakan untuk melihat laju inflasi, tetapi untuk memperoleh perhitungannya harus melihat data indeks harga perdagangan besar dari sejumlah komoditas tertentu yang diperdagangkan di suatu negara atau daerah.
c. GNP Deflator
GNP deflator adalah suatu indeks yang merupakan perbandingan atau rasio antara GNP nominal dan GNP riil dikalikan dengan 100. GNP riil adalah nilai barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan di dalam perekonomian yang diperoleh ketika output dinilai dengan menggunakan harga tahun dasar (base year). Oleh karena itu, GNP riil sering disebut juga dengan GNP berdasarkan tahun dasar (GNP at base year price). Adapun GNP nominal adalah GNP yang dihitung berdasarkan harga pasar yang berlaku (GNP at a current market prices). jadi, GNP deflator merupakan suatu ukuran tentang tingkat harga. Karena GNP deflator cakupannya lebih luas dalam arti perhitungannya meliputi semua barang yang diproduksi dalam perekonomian maka indeks ini merupakan indeks harga yang secara luas digunakan untuk mengukur inflasi. GNP deflator atau indeks harga implisit digunakan untuk melihat inflasi dari sisi perekonomian secara keseluruhan.
a. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index atau CPI)
Indek Harga Konsumen (IHK) adalah indeks harga yang mengukur biaya sekelompok barang dan jasa di pasar termasuk harga-harga makanan, pakaian, perumahan, transportasi, perawatan, kesehatan, pendidikan, dan komoditi lain yang dibeli untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan indeks harga konsumen dapat dihitung berapa besarnya kenaikan harga-harga secara umum dalam periode tertentu (1 bulan, 3 bulan, atau 1 tahun).
b. Indeks Harga Produsen (Producer price Index atau PPI)
Indeks Harga Produsen adalah suatu indek dari harga-harga bahan baku (raw materials), produk antara (intermediate products), dan peralatan modal mesin yang dibeli oleh sektor bisnis atau perusahaan. Jadi, PPI hanya mencakup bahan baku, dan barang antara, atau setengah jadi saja. Sementara barang-barang jadi tidak dimasukan ke dalam perhitungan.
Indeks harga produsen ini digunakan untuk melihat laju inflasi, tetapi untuk memperoleh perhitungannya harus melihat data indeks harga perdagangan besar dari sejumlah komoditas tertentu yang diperdagangkan di suatu negara atau daerah.
c. GNP Deflator
GNP deflator adalah suatu indeks yang merupakan perbandingan atau rasio antara GNP nominal dan GNP riil dikalikan dengan 100. GNP riil adalah nilai barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan di dalam perekonomian yang diperoleh ketika output dinilai dengan menggunakan harga tahun dasar (base year). Oleh karena itu, GNP riil sering disebut juga dengan GNP berdasarkan tahun dasar (GNP at base year price). Adapun GNP nominal adalah GNP yang dihitung berdasarkan harga pasar yang berlaku (GNP at a current market prices). jadi, GNP deflator merupakan suatu ukuran tentang tingkat harga. Karena GNP deflator cakupannya lebih luas dalam arti perhitungannya meliputi semua barang yang diproduksi dalam perekonomian maka indeks ini merupakan indeks harga yang secara luas digunakan untuk mengukur inflasi. GNP deflator atau indeks harga implisit digunakan untuk melihat inflasi dari sisi perekonomian secara keseluruhan.
Pengertian Tindakan Ekonomi
Ibu berbelanja untuk memenuhi kebutuhan kita yaitu, makan. Ibu selalu menyajikan menu yang bervariasi, bukan? Kadang lauk ikan, ayam, ataupun tempe. Ibu juga menyesuaikannya dengan uang yang diberikan oleh Ayah. Mungkin pada awal bulan Ibu bisa saja menyediakan lauk daging tetapi mendekati akhir bulan Ibu menggantinya dengan lauk tahu dan tempe.
Selain agar ada variasi dalam menu makanan ibu juga memikirkan keuntungan lain. Jika uang untuk membeli daging digunakan untuk membeli ayam atau tahu dan tempe, mungkin ada sisa uang. Karena harga ayam, tahu, dan tempe lebih murah dari harga daging. Sisa uang tadi dapat Ibu belanjakan lauk atau sayuran lain ataupun digunakan untuk membeli kebutuhan lain.
Pada kondisi seperti itu, kita harus mengambil tindakan ekonomi. Jika kita akan mengambil suatu tindakan ekonomi, berarti kita akan mengambil tindakan yang kita anggap paling menguntungkan dari beberapa pertimbangan yang ada. Jadi, apa yang dimaksud dengan tindakan ekonomi? Tindakan ekonomi adalah suatu perbuatan yang dilakukan melalui pertimbangan yang rasional atau dengan perhitungan dalam menentukan suatu pilihan dari beberapa kemungkinan.
Tindakan Ekonomi yang Rasional
Jika kamu mempunyai uang tabungan Rp 100.000,00, apa yang akan kamu lakukan dengan uang tersebut? Kalau kamu mempunyai hobi mengumpulkan boneka Barbie atau kaset playstation, apakah semua uang tersebut akan kamu belanjakan untuk barang-barang kesukaanmu itu? Atau kamu menginginkan membeli sepeda untuk ke sekolah?
Jika kamu menginginkan sepeda, berarti uangmu tidak akan cukup. Sementara, orang tuamu juga belum mempunyai uang untuk menambah kekurangannya. Lalu, sekarang apakah kamu memutuskan untuk membeli mainan kesukaanmu itu saja? Kalau kamu memang tidak mempunyai kebutuhan lain yang lebih penting, kamu dapat saja menghabiskan uangmu untuk membeli mainan itu. Tetapi, benarkah tidak ada kebutuhan yang lebih penting lagi?
Setelah dipikir-pikir, ternyata kamu juga ingin membeli buku Harry Potter terbaru, buku pekerjaan rumahmu sudah habis, tas sekolah sudah rusak, dan kaos kaki juga sudah bolong. Setelah dihitung-hitung, tabunganmu tidak akan cukup untuk membeli semua barang-barang tersebut. Oleh karena itu, kamu harus melakukan pilihan.
Dengan tabungan Rp100.000,00 tadi, kebutuhan mana saja yang harus dibeli lebih dahulu? Apakah kamu masih tetap hanya mau menghabiskan uangmu untuk menambah koleksi Barbie, padahal kamu sudah mempunyai sepuluh boneka? Atau kamu tetap mengoleksi permainan (game), padahal kamu sebenarnya sudah mulai bosan bermain play station? Kamu harus menimbang-nimbang, apakah uang tersebut akan berguna jika dibelikan mainan kesukaanmu itu? Atau akankah lebih berguna lagi jika kamu belikan buku atau keperluan sekolah saja?
Dari beberapa pilihan di atas, apa tindakan ekonomi yang akan kamu lakukan? Membeli sepeda jelas tidak mungkin karena kamu tidak mungkin memaksa Ayah dan Ibu untuk menambah kekurangan tabunganmu jika mereka tidak mempunyai uang. Lalu, apakah kamu akan memuaskan hatimu dengan menghabiskan tabungan sebesar Rp100.000,00 itu hanya untuk membeli boneka atau permainan kesukaanmu saja? Jika tindakan itu yang kamu pilih, berarti kamu tidak melakukan tindakan ekonomi yang rasional karena masih ada kebutuhan lain yang lebih penting. Jadi, kamu seharusnya mengambil tindakan ekonomi dengan membelanjakan uangmu terlebih dahulu untuk membeli keperluan sekolah, seperti buku tulis, kaos kaki, atau tas sekolah. Apabila uangmu masih tersisa, kamu boleh menggunakannya untuk membeli play station atau boneka.
Menurut pendapatmu, apakah tindakanmu di atas sudah rasional? Sudahkah kamu bersikap rasional dalam melakukan tindakan ekonomi?
Selain agar ada variasi dalam menu makanan ibu juga memikirkan keuntungan lain. Jika uang untuk membeli daging digunakan untuk membeli ayam atau tahu dan tempe, mungkin ada sisa uang. Karena harga ayam, tahu, dan tempe lebih murah dari harga daging. Sisa uang tadi dapat Ibu belanjakan lauk atau sayuran lain ataupun digunakan untuk membeli kebutuhan lain.
Pada kondisi seperti itu, kita harus mengambil tindakan ekonomi. Jika kita akan mengambil suatu tindakan ekonomi, berarti kita akan mengambil tindakan yang kita anggap paling menguntungkan dari beberapa pertimbangan yang ada. Jadi, apa yang dimaksud dengan tindakan ekonomi? Tindakan ekonomi adalah suatu perbuatan yang dilakukan melalui pertimbangan yang rasional atau dengan perhitungan dalam menentukan suatu pilihan dari beberapa kemungkinan.
Tindakan Ekonomi yang Rasional
Jika kamu mempunyai uang tabungan Rp 100.000,00, apa yang akan kamu lakukan dengan uang tersebut? Kalau kamu mempunyai hobi mengumpulkan boneka Barbie atau kaset playstation, apakah semua uang tersebut akan kamu belanjakan untuk barang-barang kesukaanmu itu? Atau kamu menginginkan membeli sepeda untuk ke sekolah?
Jika kamu menginginkan sepeda, berarti uangmu tidak akan cukup. Sementara, orang tuamu juga belum mempunyai uang untuk menambah kekurangannya. Lalu, sekarang apakah kamu memutuskan untuk membeli mainan kesukaanmu itu saja? Kalau kamu memang tidak mempunyai kebutuhan lain yang lebih penting, kamu dapat saja menghabiskan uangmu untuk membeli mainan itu. Tetapi, benarkah tidak ada kebutuhan yang lebih penting lagi?
Setelah dipikir-pikir, ternyata kamu juga ingin membeli buku Harry Potter terbaru, buku pekerjaan rumahmu sudah habis, tas sekolah sudah rusak, dan kaos kaki juga sudah bolong. Setelah dihitung-hitung, tabunganmu tidak akan cukup untuk membeli semua barang-barang tersebut. Oleh karena itu, kamu harus melakukan pilihan.
Dengan tabungan Rp100.000,00 tadi, kebutuhan mana saja yang harus dibeli lebih dahulu? Apakah kamu masih tetap hanya mau menghabiskan uangmu untuk menambah koleksi Barbie, padahal kamu sudah mempunyai sepuluh boneka? Atau kamu tetap mengoleksi permainan (game), padahal kamu sebenarnya sudah mulai bosan bermain play station? Kamu harus menimbang-nimbang, apakah uang tersebut akan berguna jika dibelikan mainan kesukaanmu itu? Atau akankah lebih berguna lagi jika kamu belikan buku atau keperluan sekolah saja?
Dari beberapa pilihan di atas, apa tindakan ekonomi yang akan kamu lakukan? Membeli sepeda jelas tidak mungkin karena kamu tidak mungkin memaksa Ayah dan Ibu untuk menambah kekurangan tabunganmu jika mereka tidak mempunyai uang. Lalu, apakah kamu akan memuaskan hatimu dengan menghabiskan tabungan sebesar Rp100.000,00 itu hanya untuk membeli boneka atau permainan kesukaanmu saja? Jika tindakan itu yang kamu pilih, berarti kamu tidak melakukan tindakan ekonomi yang rasional karena masih ada kebutuhan lain yang lebih penting. Jadi, kamu seharusnya mengambil tindakan ekonomi dengan membelanjakan uangmu terlebih dahulu untuk membeli keperluan sekolah, seperti buku tulis, kaos kaki, atau tas sekolah. Apabila uangmu masih tersisa, kamu boleh menggunakannya untuk membeli play station atau boneka.
Menurut pendapatmu, apakah tindakanmu di atas sudah rasional? Sudahkah kamu bersikap rasional dalam melakukan tindakan ekonomi?
Pengertian Prinsip Ekonomi
Ketika tahun ajaran baru tiba, banyak siswa sekolah yang menyerbu pasar buku murah. Bukan hanya siswa sekolah, mahasiswa pun tidak mau ketinggalan. Bagaimana dengan kamu? Mengapa kamu berbuat demikian? Pasti karena alasan harga, bukan? Memang, biasanya harga buku di pasar ini jauh lebih murah dibandingkan harga di toko buku. Jadi, kamu tetap mendapat buku yang kamu perlukan dengan harga atau pengorbanan yang lebih sedikit dibanding kamu membeli di toko buku.
Pada dua bagian sebelumnya, kamu sudah mengenal apa yang dimaksud dengan tindakan ekonomi, yaitu suatu tindakan yang dilakukan oleh manusia berdasarkan dorongan atau motifekonomi. Selanjutnya, kamu akan mengenal prinsip ekonomi yang merupakan pelengkap dari tindakan dan motif ekonomi. Prinsip adalah dasar dari suatu tindakan. Dalam melakukan tindakan ekonomi, seseorang mendasarkan tindakannya tersebut pada prinsip ekonomi, yaitu berusaha memperoleh hasil usahanya sebesar mungkin dari pengorbanan yang dilakukan atau berusaha mengeluarkan pengorbanan atau biaya sekecil mungkin untuk memperoleh hasil tertentu.
Prinsip ekonomi adalah dasar untuk melakukan suatu tindakan, yaitu keinginan memperoleh hasil sebesar mungkin dari pengorbanan yang kita lakukan.
Prinsip ekonomi menjadi dasar dari tindakan ekonomi yang akan dilakukan. Orang hanya mau melakukan suatu tindakan jika hasil yang diperolehnya akan lebih besar dari pengorbanan atau biaya yang dikeluarkan. Ayo, kita ambil contoh lain. Pak Amat, misalnya, ingin membuka sebuah warung. Ia tidak akan mau membuka warung kalau perkiraannya ia akan merugi. Sebelum membuka warung, Pak Amat sudah menimbang-nimbang bahwa warungnya akan mendapatkan hasil yang lebih besar dibandingkan dengan modalnya, apalagi jika lokasi warungnya strategis.
Jadi, seseorang yang mempunyai prinsip ekonomi selalu menghitung untung rugi pada setiap tindakan yang akan dilakukannya. Artinya, segala sesuatu yang dikorbankan seseorang, baik berupa tenaga maupun modal atau uang harus dapat menghasilkan sesuatu yang lebih besar atau memberikan keuntungan bagi dirinya.
Pada dua bagian sebelumnya, kamu sudah mengenal apa yang dimaksud dengan tindakan ekonomi, yaitu suatu tindakan yang dilakukan oleh manusia berdasarkan dorongan atau motifekonomi. Selanjutnya, kamu akan mengenal prinsip ekonomi yang merupakan pelengkap dari tindakan dan motif ekonomi. Prinsip adalah dasar dari suatu tindakan. Dalam melakukan tindakan ekonomi, seseorang mendasarkan tindakannya tersebut pada prinsip ekonomi, yaitu berusaha memperoleh hasil usahanya sebesar mungkin dari pengorbanan yang dilakukan atau berusaha mengeluarkan pengorbanan atau biaya sekecil mungkin untuk memperoleh hasil tertentu.
Prinsip ekonomi adalah dasar untuk melakukan suatu tindakan, yaitu keinginan memperoleh hasil sebesar mungkin dari pengorbanan yang kita lakukan.
Prinsip ekonomi menjadi dasar dari tindakan ekonomi yang akan dilakukan. Orang hanya mau melakukan suatu tindakan jika hasil yang diperolehnya akan lebih besar dari pengorbanan atau biaya yang dikeluarkan. Ayo, kita ambil contoh lain. Pak Amat, misalnya, ingin membuka sebuah warung. Ia tidak akan mau membuka warung kalau perkiraannya ia akan merugi. Sebelum membuka warung, Pak Amat sudah menimbang-nimbang bahwa warungnya akan mendapatkan hasil yang lebih besar dibandingkan dengan modalnya, apalagi jika lokasi warungnya strategis.
Jadi, seseorang yang mempunyai prinsip ekonomi selalu menghitung untung rugi pada setiap tindakan yang akan dilakukannya. Artinya, segala sesuatu yang dikorbankan seseorang, baik berupa tenaga maupun modal atau uang harus dapat menghasilkan sesuatu yang lebih besar atau memberikan keuntungan bagi dirinya.
Pengertian Pendapatan Per Kapita
Pendapatan per Kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan per kapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut. Pendapatan per kapita juga merefleksikan PDB per kapita. Pendapatan per kapita digunakan sebagai tolak ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah negara. Semakin besar pendapatan per kapitanya, semakin makmur negara tersebut.
Namun, dalam hal ini pendapatan per kapita setiap orang dianggap sama dan menjadi suatu masalah apabila pendapatan penduduk tidak merata. Oleh karena itu, pemerataan menjadi hal yang sangat penting. Bangsa atau negara yang berhasil melakukan pembangunan, berarti bangsa atau negara tersebut sangat tinggi tingkat produktivitasnya dan penduduknya juga makin sejahtera secara merata. Berikut merupakan pendapatan per kapita Indonesia dengan negara lain di Asia Tenggara menurut Bank Dunia (World Bank).
Misalnya, pendapatan nasional Indonesia pada tahun 2010 sebesar Rp450 triliun, sedangkan jumlah penduduknya 225 juta, maka besarnya pendapatan per kapita adalah Rp2.000.000,00.
Pertumbuhan Pendapatan Per Kapita
Menentukan pendapatan per kapita bukanlah hal yang sulit, jika pendapatan nasional untuk setiap tahunnya dapat diketahui. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pendapatan per kapita pada tahun tertentu adalah dengan cara membagi pendapatan pada tahun itu dengan jumlah penduduk pada tahun yang bersangkutan.
Di kawasan Asean, Singapura adalah negara yang memiliki pendapatan per kapita tertinggi.
If the capita income from year to year improvement, but the number of inhabitants increased it, whether the country can be prosperous countries?
Namun, dalam hal ini pendapatan per kapita setiap orang dianggap sama dan menjadi suatu masalah apabila pendapatan penduduk tidak merata. Oleh karena itu, pemerataan menjadi hal yang sangat penting. Bangsa atau negara yang berhasil melakukan pembangunan, berarti bangsa atau negara tersebut sangat tinggi tingkat produktivitasnya dan penduduknya juga makin sejahtera secara merata. Berikut merupakan pendapatan per kapita Indonesia dengan negara lain di Asia Tenggara menurut Bank Dunia (World Bank).
Misalnya, pendapatan nasional Indonesia pada tahun 2010 sebesar Rp450 triliun, sedangkan jumlah penduduknya 225 juta, maka besarnya pendapatan per kapita adalah Rp2.000.000,00.
Pertumbuhan Pendapatan Per Kapita
Menentukan pendapatan per kapita bukanlah hal yang sulit, jika pendapatan nasional untuk setiap tahunnya dapat diketahui. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pendapatan per kapita pada tahun tertentu adalah dengan cara membagi pendapatan pada tahun itu dengan jumlah penduduk pada tahun yang bersangkutan.
Di kawasan Asean, Singapura adalah negara yang memiliki pendapatan per kapita tertinggi.
If the capita income from year to year improvement, but the number of inhabitants increased it, whether the country can be prosperous countries?
Pengertian pendapatan nasional
Pendapatan nasional adalah pendapatan yang diterima oleh suatu negara selama satu tahun yang diukur dengan nilai uang atau dapat juga dikatakan sebagai gabungan dari hasil kegiatan para pelaku ekonomi. Untuk mengetahui besarnya pendapatan nasional suatu negara, dapat dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu pendekatan produksi, pendekatan pengeluaran, dan pendekatan pendapatan.
1. Pendekatan Produksi (Production Approach)
Pendekatan ini dilakukan dengan menghitung nilai barang dan jasa yang di produksi di suatu negara dalam satu tahun dengan cara menjumlahkan value added setiap proses produksi. Atau dapat juga dilakukan dengan menjumlahkan secara keseluruhan nilai tambah dari semua sektor kegiatan ekonomi.
Ketika akan melakukan perhitungan dengan pendekatan produksi harus dihindari terjadinya perhitungan ganda, hal tersebut dapat dilakukan dengan menjumlahkan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan pada setiap tahap proses produksi. Misalnya, perekonomian terdiri hanya satu sektor saja, yaitu seorang petani mampu menghasilkan kakao (cokelat) yang dijual dengan harga Rp10.000.000,00. Kakao tersebut diproses menjadi cokelat vang dijual dengan harga Rp15.000.000,00. Kemudian, cokelat ini dibeli oleh pengusaha cokelat dan dibuat cokelat leleh dengan merek cokelat tertentu harganya Rp20.000.000,00. Berdasarkan contoh tersebut, dapat dihitung nilai tambah dari sektor produksi kakao, yaitu sebagai berikut.
a. Petani kakao mendapat nilai tambah Rp10.000.000,00 sebab ia tidak mengeluarkan biaya apapun.
b. Pengusaha pengolahan cokelat mendapat nilai tambah Rp5.000.000,00 yaitu dari Rpl 5.000.000,00 - Rp10.000.000,00 = Rp5.000.000,00.
c. Pengusaha cokelat mendapat nilai tambah Rp5.000.000,00 yaitu dari Rp20.000.000,00 – Rp 15.000.000,00 = Rp5.000.000,00
Jadi, nilai tambah dari sektor ini adalah Rp20.000.000,00
Menurut International Standar Industrial Classification (ISIC), menghitung pendapatan nasional dengan pendekatan produksi total (production approach) dibagi ke dalam sebelas lapangan usaha atau sektor yang kemudian disederhanakan lagi menjadi sembilan sektor lapangan usaha, di antaranya:
1. pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan;
2. pertambangan dan pengggalian;
3. industri pengolahan atau manufaktur;
4. listrik, gas, dan air minum;
5. bangunan;
6. perdangangan, hotel, dan restoran;
7. pengangkutan dan komunikasi;
8. keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan;
9. jasa-jasa.
2. Pendekatan Pengeluaran (Expenditure Approach)
Pendekatan pengeluaran dilakukan dengan menghitung jumlah pengeluaran secara nasional untuk membeli barang dan jasa dengan cara menjumlahkan pengeluaran rumah tangga konsumen, rumah tangga podusen, rumah tangga pemerintah, dan rumah tangga luar negeri kepada masyarakat atau negara selama satu tahun.
Pengeluaan rumah tangga konsumen dilambangkan (C), pengeluaran rumah tangga produsen atau perusahaan disebut investasi dilambangkan (I), pengeluaran pemerintah, baik pusat maupun daerah dilambangkan (G), dan pengeluaran sektor luar negeri atau selisih ekspor dan impor dilambangkan (X-M). Secara matematis pendapatan nasional yang terdiri atas komponen-komponen pengeluaran dari sektor tersebut dapat dinyatakan dalam persamaan berikut.
Y = C + I + G + (X - M)
Keterangan:
Y = Pendapatan nasional
C = Pengeluaran sektor rumah tangga
I = Pengeluaran sektor perusahaan
G = Pengeluaran sektor pemerintah
(X - M) = Sektor luar negeri atau selisih ekspor impor
Angka yang diperoleh dalam perhitungan pendapatan nasional dengan metode pengeluaran menunjukkan besarnya Produksi Nasional Bruto (PNB) masyarakat atau disebut juga perhitungan Gross National Product (GNP).
3. Pendekatan Pendapatan (Income Approach)
Pendekatan pendapatan dilakukan dengan menghitung seluruh pendapatan yang diterima pemilik faktor produksi yang disumbangkan kepada rumah tangga produsen selama satu tahun. Pendapatan yang dihitung adalah pendapatan yang diperoleh oleh mereka yang memiliki faktor-faktor produksi, seperti pemilik modal, pekerja, dan pengusaha. Para pemilik faktor produksi ini masing-masing memperoleh gaji yang dilambangkan dengan w (wages), sewa dilambangkan dengan r (rent), bunga modal dilambangkan dengan i (interest), dan laba dilambangkan dengan p (profit). Pendapatan yang diperoleh dapat dikatakan perhitungan Nasional Income (NI) sehingga dapat dibuatkan persamaan matematisnya sebagai berikut.
Y = r + i + w + p
Keterangan:
Y = Pendapatan Nasional (NI)
r = rent (sewa)
i = interest (bunga modal)
w = wages (upah)
p = profit (laba pengusaha)
1. Pendekatan Produksi (Production Approach)
Pendekatan ini dilakukan dengan menghitung nilai barang dan jasa yang di produksi di suatu negara dalam satu tahun dengan cara menjumlahkan value added setiap proses produksi. Atau dapat juga dilakukan dengan menjumlahkan secara keseluruhan nilai tambah dari semua sektor kegiatan ekonomi.
Ketika akan melakukan perhitungan dengan pendekatan produksi harus dihindari terjadinya perhitungan ganda, hal tersebut dapat dilakukan dengan menjumlahkan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan pada setiap tahap proses produksi. Misalnya, perekonomian terdiri hanya satu sektor saja, yaitu seorang petani mampu menghasilkan kakao (cokelat) yang dijual dengan harga Rp10.000.000,00. Kakao tersebut diproses menjadi cokelat vang dijual dengan harga Rp15.000.000,00. Kemudian, cokelat ini dibeli oleh pengusaha cokelat dan dibuat cokelat leleh dengan merek cokelat tertentu harganya Rp20.000.000,00. Berdasarkan contoh tersebut, dapat dihitung nilai tambah dari sektor produksi kakao, yaitu sebagai berikut.
a. Petani kakao mendapat nilai tambah Rp10.000.000,00 sebab ia tidak mengeluarkan biaya apapun.
b. Pengusaha pengolahan cokelat mendapat nilai tambah Rp5.000.000,00 yaitu dari Rpl 5.000.000,00 - Rp10.000.000,00 = Rp5.000.000,00.
c. Pengusaha cokelat mendapat nilai tambah Rp5.000.000,00 yaitu dari Rp20.000.000,00 – Rp 15.000.000,00 = Rp5.000.000,00
Jadi, nilai tambah dari sektor ini adalah Rp20.000.000,00
Menurut International Standar Industrial Classification (ISIC), menghitung pendapatan nasional dengan pendekatan produksi total (production approach) dibagi ke dalam sebelas lapangan usaha atau sektor yang kemudian disederhanakan lagi menjadi sembilan sektor lapangan usaha, di antaranya:
1. pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan;
2. pertambangan dan pengggalian;
3. industri pengolahan atau manufaktur;
4. listrik, gas, dan air minum;
5. bangunan;
6. perdangangan, hotel, dan restoran;
7. pengangkutan dan komunikasi;
8. keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan;
9. jasa-jasa.
2. Pendekatan Pengeluaran (Expenditure Approach)
Pendekatan pengeluaran dilakukan dengan menghitung jumlah pengeluaran secara nasional untuk membeli barang dan jasa dengan cara menjumlahkan pengeluaran rumah tangga konsumen, rumah tangga podusen, rumah tangga pemerintah, dan rumah tangga luar negeri kepada masyarakat atau negara selama satu tahun.
Pengeluaan rumah tangga konsumen dilambangkan (C), pengeluaran rumah tangga produsen atau perusahaan disebut investasi dilambangkan (I), pengeluaran pemerintah, baik pusat maupun daerah dilambangkan (G), dan pengeluaran sektor luar negeri atau selisih ekspor dan impor dilambangkan (X-M). Secara matematis pendapatan nasional yang terdiri atas komponen-komponen pengeluaran dari sektor tersebut dapat dinyatakan dalam persamaan berikut.
Y = C + I + G + (X - M)
Keterangan:
Y = Pendapatan nasional
C = Pengeluaran sektor rumah tangga
I = Pengeluaran sektor perusahaan
G = Pengeluaran sektor pemerintah
(X - M) = Sektor luar negeri atau selisih ekspor impor
Angka yang diperoleh dalam perhitungan pendapatan nasional dengan metode pengeluaran menunjukkan besarnya Produksi Nasional Bruto (PNB) masyarakat atau disebut juga perhitungan Gross National Product (GNP).
3. Pendekatan Pendapatan (Income Approach)
Pendekatan pendapatan dilakukan dengan menghitung seluruh pendapatan yang diterima pemilik faktor produksi yang disumbangkan kepada rumah tangga produsen selama satu tahun. Pendapatan yang dihitung adalah pendapatan yang diperoleh oleh mereka yang memiliki faktor-faktor produksi, seperti pemilik modal, pekerja, dan pengusaha. Para pemilik faktor produksi ini masing-masing memperoleh gaji yang dilambangkan dengan w (wages), sewa dilambangkan dengan r (rent), bunga modal dilambangkan dengan i (interest), dan laba dilambangkan dengan p (profit). Pendapatan yang diperoleh dapat dikatakan perhitungan Nasional Income (NI) sehingga dapat dibuatkan persamaan matematisnya sebagai berikut.
Y = r + i + w + p
Keterangan:
Y = Pendapatan Nasional (NI)
r = rent (sewa)
i = interest (bunga modal)
w = wages (upah)
p = profit (laba pengusaha)
Pengertian Motif Ekonomi
Pernahkah kamu memerhatikan pengamen atau pembaca puisi di bus kota? Mengapa mereka melakukannya? Mengapa kamu belajar dengan giat? Apa keuntungannya untuk kamu? Pernahkah kamu menyumbang untuk korban bencana alam?
Sebelum melakukan suatu tindakan atau pun tindakan-tindakan di atas, ada faktor-faktor yang mendorong manusia untuk melakukan suatu tindakan. Misalnya, kamu melihat ada seorang pengemis yang sedang berusaha mencari sesuap nasi. Kamu tentu akan merasa kasihan dan berusaha membantunya dengan memberi uang, meskipun uang yang kamu berikan tidak banyak. Dorongan hatimu untuk menolong pengemis tersebut membuatmu melakukan tindakan untuk membantunya memberi makanan. Segala sesuatu yang mendorong manusia melakukan suatu tindakan disebut motif.
Pada bahasan sebelumnya, kamu tentu sudah sedikit mulai memahami bahwa ada tindakan ekonomi yang dilakukan manusia melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu atau rasional. Seperti halnya setiap tindakan manusia yang selalu dilatar belakangi motif tertentu, tindakan ekonomi yang dilakukan seseorang juga didorong oleh motif yang disebut motif ekonomi.
Beberapa motif ekonomi yang mendorong seseorang melakukan tindakan ekonomi adalah sebagai berikut.
a. Dorongan untuk memperoleh keuntungan.
b. Dorongan untuk meningkatkan kemakmuran.
c. Dorongan untuk memperoleh penghargaan.
d. Dorongan untuk mendapatkan kekuasaan.
Perbedaan antara Motif Ekonomi dan Nonekonomi
Jika motif ekonomi akan mendorong seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan ekonomi, kita juga mengenal adanya motif nonekonomi. Ciri tindakan ekonomi ialah adanya pertimbangan sebelum kita melakukan tindakan dan hasil dari tindakan tersebut sesuai dengan motif ekonomi.
Contohnya ketika seorang pedagang pakaian berjualan pada saat lebaran. Ia tentu menaikkan harga barang dagangannya dan ia tahu masyarakat pasti banyak yang berbelanja pakaian walaupun harganya lebih mahal dari harga sebelum lebaran. Pedagang pakaian tersebut menaikkan harga dengan motif untuk mendapatkan keuntungan.
Sebelum melakukan suatu tindakan atau pun tindakan-tindakan di atas, ada faktor-faktor yang mendorong manusia untuk melakukan suatu tindakan. Misalnya, kamu melihat ada seorang pengemis yang sedang berusaha mencari sesuap nasi. Kamu tentu akan merasa kasihan dan berusaha membantunya dengan memberi uang, meskipun uang yang kamu berikan tidak banyak. Dorongan hatimu untuk menolong pengemis tersebut membuatmu melakukan tindakan untuk membantunya memberi makanan. Segala sesuatu yang mendorong manusia melakukan suatu tindakan disebut motif.
Pada bahasan sebelumnya, kamu tentu sudah sedikit mulai memahami bahwa ada tindakan ekonomi yang dilakukan manusia melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu atau rasional. Seperti halnya setiap tindakan manusia yang selalu dilatar belakangi motif tertentu, tindakan ekonomi yang dilakukan seseorang juga didorong oleh motif yang disebut motif ekonomi.
Beberapa motif ekonomi yang mendorong seseorang melakukan tindakan ekonomi adalah sebagai berikut.
a. Dorongan untuk memperoleh keuntungan.
b. Dorongan untuk meningkatkan kemakmuran.
c. Dorongan untuk memperoleh penghargaan.
d. Dorongan untuk mendapatkan kekuasaan.
Perbedaan antara Motif Ekonomi dan Nonekonomi
Jika motif ekonomi akan mendorong seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan ekonomi, kita juga mengenal adanya motif nonekonomi. Ciri tindakan ekonomi ialah adanya pertimbangan sebelum kita melakukan tindakan dan hasil dari tindakan tersebut sesuai dengan motif ekonomi.
Contohnya ketika seorang pedagang pakaian berjualan pada saat lebaran. Ia tentu menaikkan harga barang dagangannya dan ia tahu masyarakat pasti banyak yang berbelanja pakaian walaupun harganya lebih mahal dari harga sebelum lebaran. Pedagang pakaian tersebut menaikkan harga dengan motif untuk mendapatkan keuntungan.
Jenis-Jenis Inflasi
Menurut Boediono, inflasi dapat dibedakan berdasarkan parah atau tidaknya inflasi, yaitu sebagai berikut.
a. 30% per tahun. Biasanya ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar berlangsung relatif singkat.
b. Inflasi berat, inflasi yang tingkatannya berada di antara 30%-100% per tahun.
c. Hiperinflasi (Hyperinflation), inflasi yang tingkat keparahannya berada di atas 100% per tahun. Biasanya ditandai dengan kenaikan harga yang setiap saat berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama yang disebabkan nilai uang terus merosot.
Menurut International Monetary Fund (IMF), inflasi dibedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
a. Chronic Inflation, yaitu inflasi dengan laju rata-rata antara 25-50% per tahun selama tiga tahun atau lebih.
b. Acute Inflation, yaitu inflasi dengan laju rata-rata lebih dari 50% per tahun selama tiga tahun atau lebih.
c. Runaway, yaitu inflasi dengan laju rata-rata lebih dari 200% per tahun selama satu tahun atau lebih.
Adapun menurut Bank Indonesia, inflasi dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
a. Inflasi Inti, yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti interaksi permintaan dan penawaran, lingkungan eksternal (nilai tukar, harga komoditi internasional dan inflasi mitra dagang), ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen.
b. Inflasi non Inti, yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh selain faktor fundamental. Inflasi ini di antaranya sebagai berikut.
1) Inflasi Volatile Food, yaitu inflasi yang dipengaruhi shocks dalam kelompok bahan makanan, seperti panen, gangguan alam, dan gangguan penyakit.
2) Inflasi Administered Prices, yaitu inflasi yang dipengaruhi shocks berupa kebijakan harga pemerintah, seperti harga BBM, tarif listrik, atau tarif angkutan.
a. 30% per tahun. Biasanya ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar berlangsung relatif singkat.
b. Inflasi berat, inflasi yang tingkatannya berada di antara 30%-100% per tahun.
c. Hiperinflasi (Hyperinflation), inflasi yang tingkat keparahannya berada di atas 100% per tahun. Biasanya ditandai dengan kenaikan harga yang setiap saat berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama yang disebabkan nilai uang terus merosot.
Menurut International Monetary Fund (IMF), inflasi dibedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
a. Chronic Inflation, yaitu inflasi dengan laju rata-rata antara 25-50% per tahun selama tiga tahun atau lebih.
b. Acute Inflation, yaitu inflasi dengan laju rata-rata lebih dari 50% per tahun selama tiga tahun atau lebih.
c. Runaway, yaitu inflasi dengan laju rata-rata lebih dari 200% per tahun selama satu tahun atau lebih.
Adapun menurut Bank Indonesia, inflasi dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
a. Inflasi Inti, yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti interaksi permintaan dan penawaran, lingkungan eksternal (nilai tukar, harga komoditi internasional dan inflasi mitra dagang), ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen.
b. Inflasi non Inti, yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh selain faktor fundamental. Inflasi ini di antaranya sebagai berikut.
1) Inflasi Volatile Food, yaitu inflasi yang dipengaruhi shocks dalam kelompok bahan makanan, seperti panen, gangguan alam, dan gangguan penyakit.
2) Inflasi Administered Prices, yaitu inflasi yang dipengaruhi shocks berupa kebijakan harga pemerintah, seperti harga BBM, tarif listrik, atau tarif angkutan.
Subscribe to:
Posts (Atom)