Cerpen merupakan prosa fiksi yang menceritakan suatu peristiwa istimewa yang dialami oleh tokoh utamanya. Bila dibandingkan dengan novel, cerpen dianggap lebih sederhana karena alur (jalan cerita) yang disajikan tidak harus lengkap. Pengarang mungkin memulai ceritanya dari klimaks sampai penyelesaian atau dari pemaparan sampai klimaks saja.
Cerpen berisi penyajian kisah yang singkat atau pendek dan umumnya mengenai kehidupan sehari-hari.
Hal-Hal yang Menarik dalam Cerpen
Cerpen banyak disukai oleh pembaca. Hal ini dikarenakan, selain bentuknya yang singkat, permasalahannya sederhana dan isinya selalu aktual seperti yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, hal-hal yang menarik dalam cerpen berkaitan dengan bentuk, tema, dan isinya. Oleh karena itu, dapat pula dikatakan bahwa hal-hal menarik dalam cerpen dapat dilihat dari unsur intrinsiknya.
Unsur Intrinsik Cerpen
Unsur intrinsik cerpen dapat menjadi hal-hal menarik dalam cerpen tersebut. Unsur intrinsik cerpen meliputi: tema, alur, sudut pandang, tokoh serta penokohan, latar, amanat, dan gaya bahasa. Sekilas tentang unsur-unsur tersebut akan dijelaskan berikut ini.
1) Tema Cerpen
Tema merupakan pokok cerita atau ide pokok yang mendasari cerita. Tema cerpen umumnya berkaitan dengan kehidupan manusia sehari-hari. Hal ini membuat sebuah cerpen menarik untuk dibaca. Jadi, hal yang menarik dalam sebuah cerpen juga dapat dikaji dari temanya. Selanjutnya, alur merupakan rangkaian peristiwa dalam cerpen tersebut. Alur disusun dengan menarik sehingga dapat menimbulkan keingintahuan pembaca. Alur pun dapat menjadi suatu hal yang menarik dalam sebuah cerpen. Alur dapat dibedakan menjadi alur maju, alur mundur, dan alur campuran.
2) Sudut Pandang Cerpen
Sudut pandang dalam cerpen berkaitan dengan cara penulis cerpen menyampaikan karyanya. Apakah ia menjadi tokoh yang masuk dalam cerpennya dan menggunakan kata ganti orang pertama, atau dia menjadi pengamat di luar cerpen dengan menggunakan kata ganti orang ketiga.
3) Tokoh dan Penokohan Cerpen
Tokoh dan penokohan merupakan dua hal yang sangat menarik. Sebuah cerpen umumnya mengandung pelaku atau tokoh. Tokoh tersebut dapat bersifat baik ataupun jahat. Karakter tokoh, baik ataupun jahat dapat dilukiskan dengan penokohan. Jadi, penokohan berfungsi membedakan tokoh yang satu dengan yang lainnya. Unsur tokoh dan penokohan dapat menjadi hal yang menarik dalam cerpen. Hal ini dikarenakan umumnya unsur tersebut sangat menarik perhatian pembaca.
4) Latar Cerpen
Latar atau setting cerpen tidak hanya berkaitan dengan tempat di mana peristiwa dalam cerpen terjadi. Akan tetapi, juga berkaitan dengan waktu dan suasana. Jadi, unsur latar menggambarkan setting yang mendasari peristiwa dalam cerpen tersebut secara keseluruhan.
5) Alur Cerpen
Rangkaian peristiwa dalam cerpen dinamakan alur cerpen. Alur cerpen dibedakan menjadi tiga, yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran. Alur maju maksudnya, cerpen tersebut merangkaikan peristiwa demi peristiwa dari peristiwa lampau maju ke peristiwa kini. Sementara itu, alur mundur maksudnya, peristiwa disajikan dari peristiwa masa kini mundur ke peristiwa masa lampau. Alur campuran artinya menggunakan alur maju dan alur mundur.
6) Amanat Cerpen
Sebuah cerpen tidak hanya bertujuan menghibur, tetapi juga membawa pesan moral. Pesan tersebut dinamakan juga amanat. Amanat dalam sebuah cerpen menjadi suatu hal yang sangat menarik karena menjadikan cerpen lebih bermanfaat. Selain itu, gaya bahasa yang digunakan penulis cerpen juga dapat dipandang sebagai hal yang menarik. Hal ini dikarenakan gaya bahasa tiap penulis tidaklah sama. Setiap penulis tentunya memiliki kekhasan masing-masing.
Penggunaan Kalimat Langsung dan Tidak Langsung dalam Cerpen
Sebuah karya fiksi umumnya menggunakan kalimat langsung dan tidak langsung. Tahukah kamu, apa yang dimaksud kalimat langsung dan kalimat tidak langsung? Kalimat langsung adalah kalimat yang menirukan apa yang diujarkan orang secara cermat. Sementara, kalimat tidak langsung adalah kalimat yang melaporkan apa yang diujarkan orang. Bagian kutipan dalam kalimat langsung dapat berupa kalimat tanya, kalimat berita, ataupun kalimat perintah. Bagian kutipan dalam kalimat tidak langsung semuanya berupa kalimat berita.
Showing posts with label pelajaran bahasa indonesia. Show all posts
Showing posts with label pelajaran bahasa indonesia. Show all posts
Friday, March 25, 2016
Menulis Puisi Lama (Pantun dan Syair)
Puisi lama memiliki kaidah yang harus dipenuhi. Kaidah tersebut, antara lain: jumlah baris atau kalimat dalam tiap baitnya, jumlah suku kata atau jumlah kata dalam setiap kalimat, rima atau persamaan bunyi, dan irama. Puisi lama terdiri atas beberapa bentuk, yaitu masnawi, ruba'i, nazam, gazal, kit'ah, syair, seloka, gurindam, pantun, talibun, karmina, bidal, dan mantra. Kali ini, kita akan membahas pantun dan syair. Kamu diharapkan dapat menulis pantun dan syair.
a. Pantun
Pantun merupakan puisi asli Indonesia dan dianggap sebagai puisi tertua. Lahirnya pantun berhubungan erat dengan kebiasaan masyarakat lama yang selalu menyampaikan maksud secara berkias. Mereka cenderung berteka-teki atau tidak berterus terang dalam mengungkapkan perasaan.
Ungkapan terus terang masih dianggap tabu sehingga perlu dihindari. Penggunaan teka-teki itu akhirnya berkembang menjadi bahasa sajak yang dinamakan pantun. Penulisan pantun selalu memerhatikan beberapa ciri berikut.
1) Tiap bait terdiri atas 4 baris kalimat.
2) Tiap baris terdiri atas 4-6 kata atau 8-12 suku kata.
3) Dua baris pertama merupakan sampiran, dua baris berikutnya adalah isi.
4) Mempunyai sajak silang a-b-a-b.
5) Isi pantun merupakan curahan perasan pembuatnya.
6) Tiap bait berdiri sendiri sebagai pesan utuh, kecuali pada pantun berkait.
Sebagai puisi lama, pantun mengalami variasi bentuk rupa perubahan jumlah baris tiap baitnya. Berdasarkan perubahan bentuk tersebut, pantun dikelompokkan menjadi berikut.
1) Pantun biasa: tiap bait terdiri atas 4 baris.
2) Pantun kilat atau disebut juga karmina: tiap bait terdiri atas 2 baris. Karmina dianggap sebagai penyingkatan dari pantun biasa menjadi 1 baris sampiran dan 1 baris isi.
3) Pantun berkait atau pantun rantai: baris-baris dalam bait sebelumnya diulang dalam bait berikutnya.
4) Pantun talibun: tiap bait terdiri lebih dari 4 baris tetapi selalu genap mungkin 6, 8, atau 10 baris.
b. Syair
Syair terdiri atas 4 baris dalam satu bait. Jadi, dilihat dari jumlah baris dalam tiap bait, syair hampir sama dengan pantun. Perbedaan pantun dengan syair terletak pada persajakannya, yaitu a-a-a-a.
a. Pantun
Pantun merupakan puisi asli Indonesia dan dianggap sebagai puisi tertua. Lahirnya pantun berhubungan erat dengan kebiasaan masyarakat lama yang selalu menyampaikan maksud secara berkias. Mereka cenderung berteka-teki atau tidak berterus terang dalam mengungkapkan perasaan.
Ungkapan terus terang masih dianggap tabu sehingga perlu dihindari. Penggunaan teka-teki itu akhirnya berkembang menjadi bahasa sajak yang dinamakan pantun. Penulisan pantun selalu memerhatikan beberapa ciri berikut.
1) Tiap bait terdiri atas 4 baris kalimat.
2) Tiap baris terdiri atas 4-6 kata atau 8-12 suku kata.
3) Dua baris pertama merupakan sampiran, dua baris berikutnya adalah isi.
4) Mempunyai sajak silang a-b-a-b.
5) Isi pantun merupakan curahan perasan pembuatnya.
6) Tiap bait berdiri sendiri sebagai pesan utuh, kecuali pada pantun berkait.
Sebagai puisi lama, pantun mengalami variasi bentuk rupa perubahan jumlah baris tiap baitnya. Berdasarkan perubahan bentuk tersebut, pantun dikelompokkan menjadi berikut.
1) Pantun biasa: tiap bait terdiri atas 4 baris.
2) Pantun kilat atau disebut juga karmina: tiap bait terdiri atas 2 baris. Karmina dianggap sebagai penyingkatan dari pantun biasa menjadi 1 baris sampiran dan 1 baris isi.
3) Pantun berkait atau pantun rantai: baris-baris dalam bait sebelumnya diulang dalam bait berikutnya.
4) Pantun talibun: tiap bait terdiri lebih dari 4 baris tetapi selalu genap mungkin 6, 8, atau 10 baris.
b. Syair
Syair terdiri atas 4 baris dalam satu bait. Jadi, dilihat dari jumlah baris dalam tiap bait, syair hampir sama dengan pantun. Perbedaan pantun dengan syair terletak pada persajakannya, yaitu a-a-a-a.
Membaca Puisi
Puisi mengandung permainan bunyi pada setiap rangkaian kata yang dituliskan. Pemilihan bunyi vokal pada setiap suku kata akan menimbulkan suasana tertentu yang sesuai dengan pesan tulisan dan isi puisi. Vokal "o" dan "u" menggambarkan suasana serius, sungguh-sungguh, atau sedih. Sementara, "a" dan "i" menggambarkan keceriaan, kegembiraan, canda, atau bermain-main.
Kekuatan bunyi dalam puisi akan semakin hidup apabila puisi tersebut dibacakan, terutama oleh penulisnya sendiri. Dialah yang tahu rahasia-rahasia tertentu yang diimplisitkan melalui pembacaan puisi, perasaan penulis benar-benar tergambarkan secara jelas dan orang lain akan menerima dengan mudah. Kenyataannya, puisi hanya dituliskan jauh lebih banyak dibandingkan dengan puisi yang sempat dibacakan oleh penulisnya. Penyampaian pesan penulis hanya bersifat tidak langsung. Namun demikian, penulis tetap berharap pembaca mampu menafsirkannya.
Salah satu usaha untuk tetap menjaga kekuatan puisi adalah dengan membacakan dan mendeklamasikannya di hadapan pendengar. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembacaan puisi adalah sebagai berikut.
a) Menemukan pesan penulis dalam puisi.
b) Menyampaikan pesan kepada pendengar melalui baris puisi yang dibacakan disertai ekspresi atau penjiwaan.
c) Memerhatikan beberapa faktor pembacaan, berupa lafal, nada, tekanan, jeda, intonasi, dan pemenggalan kata atau frasa sesuai dengan isi puisi.
Tahukah kamu apa yang dimaksud lafal, nada, tekanan, jeda, intonasi, dan pemenggalan kata atau frasa dalam pembacaan puisi. Berikut ini dijelaskan sekilas agar kamu memahaminya.
a. Lafal
Lafal berkaitan dengan pengucapan dalam pembacaan puisi. Ketika membacakan puisi, lafalnya harus jelas. Artikulasinya benar-benar jelas dan dapat disimak oleh pendengar. Selain itu, vokal atau suara juga diusahakan terdengar oleh seluruh pendengar. Lafal yang jelas membantu pendengar untuk menangkap isi dan makna puisi yang dibacakan.
b. Nada
Nada berkaitan dengan tinggi rendahnya bunyi. Jadi, nada dalam pembacaan puisi berkaitan dengan tinggi rendahnya bunyi dalam membacakan baris-baris puisi. Nada hendaknya disesuaikan dengan isi puisi. Oleh karena itu, sebelum membacakan puisi hendaknya mengetahui isi dan makna puisi secara jelas.
c. Tekanan
Tekanan berkaitan dengan keras lembutnya pengucapan dalam ujaran. Tekanan dalam pembacaan puisi berfungsi untuk menunjukkan bagian-bagian yang penting dengan diberi tekanan.
d. Jeda
Jeda merupakan waktu berhenti sebentar dalam ujaran. Pembacaan puisi memerlukan jeda untuk pernapasan dan membedakan bagian-bagian dalam kalimat yang dibacakan. Jeda juga memberikan waktu para pendengar untuk meresapi kalimat-kalimat yang telah dibaca.
e. Intonasi
lntonasi merupakan lagu kalimat atau ketepatan penyajian tinggi rendah nada. Jadi, lagu kalimat dalam membacakan puisi juga harus diperhatikan. Bila puisi tersebut berisi kesedihan, maka lagu kalimatnya juga harus menggambarkan kesedihan. Sebaliknya, bila puisi berisi kegembiraan, maka lagu kalimatnya harus menggambarkan kegembiraan.
f. Pemenggalan Kata atau Frasa
Pemenggalan kata atau frasa dalam pembacaan puisi juga harus diperhatikan. Hal ini untuk menunjukkan kata atau frasa yang penting dan keterkaitannya dengan kata lainnya.
Kekuatan bunyi dalam puisi akan semakin hidup apabila puisi tersebut dibacakan, terutama oleh penulisnya sendiri. Dialah yang tahu rahasia-rahasia tertentu yang diimplisitkan melalui pembacaan puisi, perasaan penulis benar-benar tergambarkan secara jelas dan orang lain akan menerima dengan mudah. Kenyataannya, puisi hanya dituliskan jauh lebih banyak dibandingkan dengan puisi yang sempat dibacakan oleh penulisnya. Penyampaian pesan penulis hanya bersifat tidak langsung. Namun demikian, penulis tetap berharap pembaca mampu menafsirkannya.
Salah satu usaha untuk tetap menjaga kekuatan puisi adalah dengan membacakan dan mendeklamasikannya di hadapan pendengar. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembacaan puisi adalah sebagai berikut.
a) Menemukan pesan penulis dalam puisi.
b) Menyampaikan pesan kepada pendengar melalui baris puisi yang dibacakan disertai ekspresi atau penjiwaan.
c) Memerhatikan beberapa faktor pembacaan, berupa lafal, nada, tekanan, jeda, intonasi, dan pemenggalan kata atau frasa sesuai dengan isi puisi.
Tahukah kamu apa yang dimaksud lafal, nada, tekanan, jeda, intonasi, dan pemenggalan kata atau frasa dalam pembacaan puisi. Berikut ini dijelaskan sekilas agar kamu memahaminya.
a. Lafal
Lafal berkaitan dengan pengucapan dalam pembacaan puisi. Ketika membacakan puisi, lafalnya harus jelas. Artikulasinya benar-benar jelas dan dapat disimak oleh pendengar. Selain itu, vokal atau suara juga diusahakan terdengar oleh seluruh pendengar. Lafal yang jelas membantu pendengar untuk menangkap isi dan makna puisi yang dibacakan.
b. Nada
Nada berkaitan dengan tinggi rendahnya bunyi. Jadi, nada dalam pembacaan puisi berkaitan dengan tinggi rendahnya bunyi dalam membacakan baris-baris puisi. Nada hendaknya disesuaikan dengan isi puisi. Oleh karena itu, sebelum membacakan puisi hendaknya mengetahui isi dan makna puisi secara jelas.
c. Tekanan
Tekanan berkaitan dengan keras lembutnya pengucapan dalam ujaran. Tekanan dalam pembacaan puisi berfungsi untuk menunjukkan bagian-bagian yang penting dengan diberi tekanan.
d. Jeda
Jeda merupakan waktu berhenti sebentar dalam ujaran. Pembacaan puisi memerlukan jeda untuk pernapasan dan membedakan bagian-bagian dalam kalimat yang dibacakan. Jeda juga memberikan waktu para pendengar untuk meresapi kalimat-kalimat yang telah dibaca.
e. Intonasi
lntonasi merupakan lagu kalimat atau ketepatan penyajian tinggi rendah nada. Jadi, lagu kalimat dalam membacakan puisi juga harus diperhatikan. Bila puisi tersebut berisi kesedihan, maka lagu kalimatnya juga harus menggambarkan kesedihan. Sebaliknya, bila puisi berisi kegembiraan, maka lagu kalimatnya harus menggambarkan kegembiraan.
f. Pemenggalan Kata atau Frasa
Pemenggalan kata atau frasa dalam pembacaan puisi juga harus diperhatikan. Hal ini untuk menunjukkan kata atau frasa yang penting dan keterkaitannya dengan kata lainnya.
Monday, March 21, 2016
Pengertian kesimpulan dan saran
Hasil yang didapatkan dalam suatu penelitian adalah kesimpulan. Berdasarkan kesimpulan itu, didapatkan juga saran untuk penelitian-penelitian selanjutnya. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan kesimpulan dan saran? Bagaimana merumuskan kesimpulan dan saran tersebut? Berikut ini penjelasannya.
Kesimpulan adalah pernyataan singkat, jelas, dan sistematis dari keseluruhan hasil analisis, pembahasan, dan pengujian hipotesis dalam sebuah penelitian. Saran adalah usul atau pendapat dari seorang peneliti yang berkaitan dengan pemecahan masalah yang menjadi objek penelitian ataupun kemungkinan penelitian lanjutan.
Pada bagian kesimpulan dan saran, peneliti berusaha memperlihatkan benang merah antara keseluruhan bagian dalam penelitian, terutama antara masalah penelitian, hipotesis, dan analisis data. Sebuah kesimpulan ilmiah harus didasarkan pada hasil penelitian, karena pada bagian ini peneliti berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan masalah penelitian. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang peneliti untuk mengetahui cara atau teknik menarik kesimpulan atas data-data yang diperolehnya.
Dalam menarik kesimpulan peneliti dapat menggunakan logika deduktif dan induktif.
1. Kesimpulan dengan logika deduktif. Logika deduktif atau umum-khusus merupakan proses berpikir yang dimulai dari sesuatu hal yang umum ke hal-hal yang khusus. Proses pengambilan keputusan ini dilakukan untuk penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan kesimpulan dengan logika deduktif, dimulai dengan teori yang digunakan, kemudian teori tersebut dikaitkan dengan data yang diperoleh sehingga peneliti memperoleh kesimpulan.
Contoh:
Premis 1 : langit mendung maka hari akan hujan
Premis 2 : hari ini langit mendung
Kesimpulan : maka hari ini akan hujan
2. Kesimpulan dengan logika induktif. Logika berpikir ini dimulai dari sesuatu hal yang spesifik sehingga dapat dilihat pola yang terjadi dan pola ini akan menjadi kesimpulan bagi sebuah penelitian proses logika berpikir ini dapat digunakan untuk penelitian dengan pendekatan kualitatif.
Contoh:
bukti 1 : senin hujan
bukti 2 : selasa hujan
bukti 3 : rabu hujan
bukti 4 : kamis hujan
kesimpulan : maka kemungkinan hari jumat hujan.
Kesimpulan adalah pernyataan singkat, jelas, dan sistematis dari keseluruhan hasil analisis, pembahasan, dan pengujian hipotesis dalam sebuah penelitian. Saran adalah usul atau pendapat dari seorang peneliti yang berkaitan dengan pemecahan masalah yang menjadi objek penelitian ataupun kemungkinan penelitian lanjutan.
Pada bagian kesimpulan dan saran, peneliti berusaha memperlihatkan benang merah antara keseluruhan bagian dalam penelitian, terutama antara masalah penelitian, hipotesis, dan analisis data. Sebuah kesimpulan ilmiah harus didasarkan pada hasil penelitian, karena pada bagian ini peneliti berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan masalah penelitian. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang peneliti untuk mengetahui cara atau teknik menarik kesimpulan atas data-data yang diperolehnya.
Dalam menarik kesimpulan peneliti dapat menggunakan logika deduktif dan induktif.
1. Kesimpulan dengan logika deduktif. Logika deduktif atau umum-khusus merupakan proses berpikir yang dimulai dari sesuatu hal yang umum ke hal-hal yang khusus. Proses pengambilan keputusan ini dilakukan untuk penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan kesimpulan dengan logika deduktif, dimulai dengan teori yang digunakan, kemudian teori tersebut dikaitkan dengan data yang diperoleh sehingga peneliti memperoleh kesimpulan.
Contoh:
Premis 1 : langit mendung maka hari akan hujan
Premis 2 : hari ini langit mendung
Kesimpulan : maka hari ini akan hujan
2. Kesimpulan dengan logika induktif. Logika berpikir ini dimulai dari sesuatu hal yang spesifik sehingga dapat dilihat pola yang terjadi dan pola ini akan menjadi kesimpulan bagi sebuah penelitian proses logika berpikir ini dapat digunakan untuk penelitian dengan pendekatan kualitatif.
Contoh:
bukti 1 : senin hujan
bukti 2 : selasa hujan
bukti 3 : rabu hujan
bukti 4 : kamis hujan
kesimpulan : maka kemungkinan hari jumat hujan.
Menyusun hasil penelitian
Setelah memahami garis besar penulisan laporan, Anda siap untuk menyusun laporan. Anda telah melakukan penelitian dengan tahap-tahap yang diberikan. Berdasarkan penelitian tersebut, didapatkan suatu hasil yang merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan masalah yang Anda ajukan pada tahap sebelumya. Selanjutnya, tuliskanlah hasil penelitian tersebut. Namun, bagaimana menyusun hasil penelitian? Pada uraian di bawah ini, hal itu akan dijelaskan.
Pada dasarnya, laporan penelitian merupakan satu kesatuan pola pikir ilmiah yang disusun secara sistematis dalam sebuah tulisan. Laporan penelitian berisi segala informasi maupun catatan yang diperoleh seorang peneliti, baik sebelum mengadakan penelitian, ketika penelitian berlangsung, maupun sesudah penelitian. Karena itu, beberapa ahli membagi laporan penelitian atas tiga bagian besar, yakni bagian rancangan penelitian, bagian pembahasan dan analisis hasil penelitian, serta bagian kesimpulan.
Bagian Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian biasanya telah disusun sebelum mengadakan penelitian. Pada tahap pelaporan, rancangan penelitian tinggal diperbaiki atau disempurnakan. Dalam rancangan penelitian, penulis menguraikan masalah penelitian, tinjauan pustaka, dan metodologi yang digunakan.
Pembahasan dan Analisis Hasil Penelitian
Pada penelitian kualitatif, pembahasan hasil penelitian dilakukan secara simultan dengan proses penelitian tersebut. Sementara itu, pada penelitian kuantitatif, pembahasan hasil penelitian hanya dapat dilakukan setelah tahap pengolahan dan analisis data karena apa yang dilaporkan adalah hasil pengolahan dan analisis data itu sendiri. Pada bagian ini, peneliti menguraikan data-data yang diperolehnya dalam bentuk uraian kalimat. Untuk memperkuat pernyataan, biasanya disertakan pula tabel-tabel data atau grafik-grafik yang mendukung.
Bagian selanjutnya adalah penafsiran terhadap analisis data. Dalam bagian ini, seorang peneliti harus melakukan penafsiran hubungan antardata yang kemudian dibandingkan dengan hipotesis (jika ada) yang telah dibuat. Perlu diingat di sini bahwa berbagai teknik analisis data, seperti statistik, hanya merupakan sarana dan bukan tujuan sebuah penelitian.
Kesimpulan
Akhirnya, seorang peneliti harus dapat menafsirkan sebuah kesimpulan akhir yang ditarik dari analisis yang telah dilakukan. Sebuah penelitian yang baik, pada hakikatnya tidak berhenti pada kesimpulan apakah sebuah hipotesis diterima atau ditolak, melainkan dilengkapi dengan sebuah evaluasi tentang penelitian itu sendiri. Hasil penelitian yang dilengkapi dengan evaluasi yang jujur tentang kelemahan-kelemahan penelitian akan membuat kesimpulan yang dihasilkan semakin dapat diandalkan.
Pada dasarnya, laporan penelitian merupakan satu kesatuan pola pikir ilmiah yang disusun secara sistematis dalam sebuah tulisan. Laporan penelitian berisi segala informasi maupun catatan yang diperoleh seorang peneliti, baik sebelum mengadakan penelitian, ketika penelitian berlangsung, maupun sesudah penelitian. Karena itu, beberapa ahli membagi laporan penelitian atas tiga bagian besar, yakni bagian rancangan penelitian, bagian pembahasan dan analisis hasil penelitian, serta bagian kesimpulan.
Bagian Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian biasanya telah disusun sebelum mengadakan penelitian. Pada tahap pelaporan, rancangan penelitian tinggal diperbaiki atau disempurnakan. Dalam rancangan penelitian, penulis menguraikan masalah penelitian, tinjauan pustaka, dan metodologi yang digunakan.
Pembahasan dan Analisis Hasil Penelitian
Pada penelitian kualitatif, pembahasan hasil penelitian dilakukan secara simultan dengan proses penelitian tersebut. Sementara itu, pada penelitian kuantitatif, pembahasan hasil penelitian hanya dapat dilakukan setelah tahap pengolahan dan analisis data karena apa yang dilaporkan adalah hasil pengolahan dan analisis data itu sendiri. Pada bagian ini, peneliti menguraikan data-data yang diperolehnya dalam bentuk uraian kalimat. Untuk memperkuat pernyataan, biasanya disertakan pula tabel-tabel data atau grafik-grafik yang mendukung.
Bagian selanjutnya adalah penafsiran terhadap analisis data. Dalam bagian ini, seorang peneliti harus melakukan penafsiran hubungan antardata yang kemudian dibandingkan dengan hipotesis (jika ada) yang telah dibuat. Perlu diingat di sini bahwa berbagai teknik analisis data, seperti statistik, hanya merupakan sarana dan bukan tujuan sebuah penelitian.
Kesimpulan
Akhirnya, seorang peneliti harus dapat menafsirkan sebuah kesimpulan akhir yang ditarik dari analisis yang telah dilakukan. Sebuah penelitian yang baik, pada hakikatnya tidak berhenti pada kesimpulan apakah sebuah hipotesis diterima atau ditolak, melainkan dilengkapi dengan sebuah evaluasi tentang penelitian itu sendiri. Hasil penelitian yang dilengkapi dengan evaluasi yang jujur tentang kelemahan-kelemahan penelitian akan membuat kesimpulan yang dihasilkan semakin dapat diandalkan.
Menyusun garis besar laporan penelitian
Setelah melakukan langkah-langkah penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya, selanjutnya Anda akan membuat laporan penelitian. Oleh karena itu, terlebih dahulu, Anda harus memahami garis besar laporan penelitian. Hal yang harus dipahami, antara lain syarat-syarat penulisan laporan dan bagian-bagian laporan penelitian. Berikut ini penjelasannya.
Syarat-Syarat Penulisan Laporan
1. Penulis laporan harus mengetahui kepada siapa laporan itu akan ditujukan, misalnya untuk sponsor, kalangan mahasiswa, masyarakat umum, atau untuk majalah. Cara menulis artikel ilmiah di sebuah majalah atau buletin, makalah, surat kabar akan berbeda aturannya dengan menulis sebuah laporan penelitian walaupun masalah yang dikemukakan sama.
2. Penulis laporan harus menyadari bahwa pembaca laporan tidak mengikuti semua kegiatan penelitian. Oleh karena itu, langkah demi langkah seyogyanya dikemukakan secara jelas, termasuk alasan mengapa hal itu dilakukan.
3. Penulis laporan harus menyadari bahwa latar belakang pengetahuan, pengalaman, dan minat pembaca laporan tidaklah sama. Peneliti harus dapat meyakinkan pembaca bahwa penelitian yang dilakukan itu penting. Oleh karena itu, dalam mengemukakan hasil penelitian, peneliti harus menggunakan bahasa yang komunikatif sehingga mudah dipahami pembaca.
4. Laporan penelitian merupakan elemen penting dalam proses kemajuan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, hal yang diperlukan dalam laporan penelitian adalah kejelasan dan kemampuan meyakinkan para pembacanya. Penulisan laporan harus:
• menggunakan bahasa yang komunikatif, baik, dan benar;
• sistematis, yaitu langkah-langkahnya harus benar dan sesuai.
Bagian-Bagian Laporan Penelitian
Laporan penelitian merupakan karya ilmiah. Untuk itu, penulisan laporan penelitian harus mengikuti aturan penulisan ilmiah. Secara garis besar, laporan penelitian terdiri dari tiga bagian besar, yakni bagian pendahuluan, bagian isi atau badan laporan, dan bagian penutup.
Bagian pendahuluan (preliminary materials)
Di dalam bagian ini, peneliti menjelaskan penelitian secara garis besar, terutama sistematika penulisan agar pembaca dapat diajak mempelajari garis besar isi dan mengikuti laporan tersebut dengan mudah. Bagian ini terdiri dari beberapa subbagian berikut.
a. Halaman judul
Merupakan kulit sebuah laporan. Pada halaman ini dicantumkan judul penelitian. Judul sebaiknya jelas, ringkas, dan menggambarkan isi. Pada halaman ini juga dituliskan nama penyusun, nama lembaga, nama tempat, dan tahun penyusunan laporan.
b. Kata pengantar
Kata pengantar merupakan uraian pendek dari penulis tentang penelitiannya. Dalam kata pengantar diuraikan tujuan penelitian, masalah yang dihadapi, siapa yang memberi sponsor, dan ucapan terima kasih kepada pihak yang telah memberikan bantuan. Kata pengantar dapat juga ditulis oleh badan yang memberi sponsor. Pada akhir bagian kata pengantar, dibubuhkan keterangan tanggal, bulan, tahun penulisan, dan nama lengkap peneliti atau badan sponsor.
c. Daftar isi
Daftar isi berisi gambaran menyeluruh tentang isi laporan. Daftar isi menunjukkan bagian-bagian dari laporan sehingga hubungan antara satu bagian dan bagian lainnya dapat dlihat. Tiap-tiap bab atau subbab dicantumkan dengan jelas sesuai dengan urutan dalam nomor halamannya, demikian pula lampiran-lampiran. Daftar isi sangat membantu pembaca dalam menemukan bagian-bagian yang penting atau menarik untuk dibaca tanpa harus membaca seluruh laporan.
d. Daftar tabel, gambar, dan grafik
Seandainya dalam laporan itu tidak terdapat tabel, gambar, atau grafik, maka halaman ini tidak perlu dibuat. Sebaliknya, bila dalam laporan tersebut diperlukan tabel, gambar, atau grafik, maka halaman ini harus dibuat dengan jelas. Daftar tabel memuat judul-judul tabel yang ada dalam laporan tersebut. Daftar tabel disusun berurutan sesuai nomor pada setiap tabel.
Isi laporan (body of the paper)
Bagian ini memuat uraian-uraian tentang proses penelitian dan hasilnya. Bagian ini harus mampu menggambarkan pola berpikir ilmiah dalam keseluruhan proses penelitian. Bagian isi meliputi bab-bab berikut ini.
a. Bab pendahuluan
Pada bab pendahuluan ditampilkan perumusan masalah, ruang lingkup, kegunaan teoritis, dan praktik dari laporan yang ada. Jadi, pendahuluan mencakup latar belakang penelitian dan tujuan penelitian.
b. Bab tinjauan pustaka
Bagian ini ditulis untuk memberikan gambaran kepada pembaca mengenai hal yang telah dirintis oleh peneliti lain untuk memberikan penekanan pentingnya permasalahan dan memberikan petunjuk kepada pembaca ke mana mereka dapat mempelajari masalah tersebut lebih lanjut. Selanjutnya, peneliti mencoba mengemukakan alur pikirannya dengan cara merangkum penemuan dan membuat jembatan dengan apa yang akan ia lakukan. Bab tinjauan pustaka biasanya diakhiri dengan hipotesis.
c. Bab metodologi penelitian
Bab ini menerangkan tentang subjek, objek, ruang lingkup penelitian, teknik pengumpulan data, cara pengolahan data, dan analisa data yang digunakan. Metodologi penelitian biasanya telah disajikan dalam rancangan penelitian. Selanjutnya, peneliti tinggal menyempurnakannya.
d. Bab pelaksanaan penelitian
Pada bagian ini, peneliti menguraikan proses pelaksanaan penelitian, baik menyangkut validitas instrumen penelitian dan proses pengumpulan data maupun proses analisis datanya.
e. Bab hasil penelitian dan pembahasan
Bab ini merupakan inti laporan penelitian. Bagian inilah yang ingin diketahui oleh pembaca. Pada bagian ini, peneliti menguraikan seluruh hasil penelitian, tinjauan kepustakaan, dan metodologi yang digunakan, lalu dibandingkan satu per satu dan dicari keterkaitannya.
f. Bab kesimpulan dan saran
Kesimpulan harus dibuat singkat, padat, dan jelas. Kesimpulan berisi hal-hal yang telah dibahas pada bab sebelumnya. Pembaca yang memiliki waktu sedikit, kadang hanya membaca tujuan, hipotesis, dan hasil (kesimpulan penelitian). Ada kalanya, pada bagian ini diberikan saran terhadap masalah-masalah baru untuk diteliti lebih lanjut.
Bagian penutup
Bagian penutup umumnya terdiri dari daftar pustaka, lampiran, dan indeks.
a. Daftar pustaka
Pada bagian ini disebutkan semua buku sumber yang digunakan sebagai penunjang dalam penulisan dan pelaksanaan penelitian. Hal-hal yang perlu dikemukakan adalah nama penulis, tahun penerbitan, judul buku, tempat penerbitan, dan nama penerbit.
b. Lampiran
Lampiran memuat hal-hal yang perlu diketahui pembaca. Biasanya meliputi hal-hal berikut.
- Contoh format kuesioner, wawancara, atau pengamatan.
- Dokumen penting lainnya, seperti foto atau naskah tertentu.
c. Indeks
Bagian ini berisi daftar kata, istilah, atau nama yang ada dalam laporan. Indeks biasanya disusun menurut abjad.
Syarat-Syarat Penulisan Laporan
1. Penulis laporan harus mengetahui kepada siapa laporan itu akan ditujukan, misalnya untuk sponsor, kalangan mahasiswa, masyarakat umum, atau untuk majalah. Cara menulis artikel ilmiah di sebuah majalah atau buletin, makalah, surat kabar akan berbeda aturannya dengan menulis sebuah laporan penelitian walaupun masalah yang dikemukakan sama.
2. Penulis laporan harus menyadari bahwa pembaca laporan tidak mengikuti semua kegiatan penelitian. Oleh karena itu, langkah demi langkah seyogyanya dikemukakan secara jelas, termasuk alasan mengapa hal itu dilakukan.
3. Penulis laporan harus menyadari bahwa latar belakang pengetahuan, pengalaman, dan minat pembaca laporan tidaklah sama. Peneliti harus dapat meyakinkan pembaca bahwa penelitian yang dilakukan itu penting. Oleh karena itu, dalam mengemukakan hasil penelitian, peneliti harus menggunakan bahasa yang komunikatif sehingga mudah dipahami pembaca.
4. Laporan penelitian merupakan elemen penting dalam proses kemajuan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, hal yang diperlukan dalam laporan penelitian adalah kejelasan dan kemampuan meyakinkan para pembacanya. Penulisan laporan harus:
• menggunakan bahasa yang komunikatif, baik, dan benar;
• sistematis, yaitu langkah-langkahnya harus benar dan sesuai.
Bagian-Bagian Laporan Penelitian
Laporan penelitian merupakan karya ilmiah. Untuk itu, penulisan laporan penelitian harus mengikuti aturan penulisan ilmiah. Secara garis besar, laporan penelitian terdiri dari tiga bagian besar, yakni bagian pendahuluan, bagian isi atau badan laporan, dan bagian penutup.
Bagian pendahuluan (preliminary materials)
Di dalam bagian ini, peneliti menjelaskan penelitian secara garis besar, terutama sistematika penulisan agar pembaca dapat diajak mempelajari garis besar isi dan mengikuti laporan tersebut dengan mudah. Bagian ini terdiri dari beberapa subbagian berikut.
a. Halaman judul
Merupakan kulit sebuah laporan. Pada halaman ini dicantumkan judul penelitian. Judul sebaiknya jelas, ringkas, dan menggambarkan isi. Pada halaman ini juga dituliskan nama penyusun, nama lembaga, nama tempat, dan tahun penyusunan laporan.
b. Kata pengantar
Kata pengantar merupakan uraian pendek dari penulis tentang penelitiannya. Dalam kata pengantar diuraikan tujuan penelitian, masalah yang dihadapi, siapa yang memberi sponsor, dan ucapan terima kasih kepada pihak yang telah memberikan bantuan. Kata pengantar dapat juga ditulis oleh badan yang memberi sponsor. Pada akhir bagian kata pengantar, dibubuhkan keterangan tanggal, bulan, tahun penulisan, dan nama lengkap peneliti atau badan sponsor.
c. Daftar isi
Daftar isi berisi gambaran menyeluruh tentang isi laporan. Daftar isi menunjukkan bagian-bagian dari laporan sehingga hubungan antara satu bagian dan bagian lainnya dapat dlihat. Tiap-tiap bab atau subbab dicantumkan dengan jelas sesuai dengan urutan dalam nomor halamannya, demikian pula lampiran-lampiran. Daftar isi sangat membantu pembaca dalam menemukan bagian-bagian yang penting atau menarik untuk dibaca tanpa harus membaca seluruh laporan.
d. Daftar tabel, gambar, dan grafik
Seandainya dalam laporan itu tidak terdapat tabel, gambar, atau grafik, maka halaman ini tidak perlu dibuat. Sebaliknya, bila dalam laporan tersebut diperlukan tabel, gambar, atau grafik, maka halaman ini harus dibuat dengan jelas. Daftar tabel memuat judul-judul tabel yang ada dalam laporan tersebut. Daftar tabel disusun berurutan sesuai nomor pada setiap tabel.
Isi laporan (body of the paper)
Bagian ini memuat uraian-uraian tentang proses penelitian dan hasilnya. Bagian ini harus mampu menggambarkan pola berpikir ilmiah dalam keseluruhan proses penelitian. Bagian isi meliputi bab-bab berikut ini.
a. Bab pendahuluan
Pada bab pendahuluan ditampilkan perumusan masalah, ruang lingkup, kegunaan teoritis, dan praktik dari laporan yang ada. Jadi, pendahuluan mencakup latar belakang penelitian dan tujuan penelitian.
b. Bab tinjauan pustaka
Bagian ini ditulis untuk memberikan gambaran kepada pembaca mengenai hal yang telah dirintis oleh peneliti lain untuk memberikan penekanan pentingnya permasalahan dan memberikan petunjuk kepada pembaca ke mana mereka dapat mempelajari masalah tersebut lebih lanjut. Selanjutnya, peneliti mencoba mengemukakan alur pikirannya dengan cara merangkum penemuan dan membuat jembatan dengan apa yang akan ia lakukan. Bab tinjauan pustaka biasanya diakhiri dengan hipotesis.
c. Bab metodologi penelitian
Bab ini menerangkan tentang subjek, objek, ruang lingkup penelitian, teknik pengumpulan data, cara pengolahan data, dan analisa data yang digunakan. Metodologi penelitian biasanya telah disajikan dalam rancangan penelitian. Selanjutnya, peneliti tinggal menyempurnakannya.
d. Bab pelaksanaan penelitian
Pada bagian ini, peneliti menguraikan proses pelaksanaan penelitian, baik menyangkut validitas instrumen penelitian dan proses pengumpulan data maupun proses analisis datanya.
e. Bab hasil penelitian dan pembahasan
Bab ini merupakan inti laporan penelitian. Bagian inilah yang ingin diketahui oleh pembaca. Pada bagian ini, peneliti menguraikan seluruh hasil penelitian, tinjauan kepustakaan, dan metodologi yang digunakan, lalu dibandingkan satu per satu dan dicari keterkaitannya.
f. Bab kesimpulan dan saran
Kesimpulan harus dibuat singkat, padat, dan jelas. Kesimpulan berisi hal-hal yang telah dibahas pada bab sebelumnya. Pembaca yang memiliki waktu sedikit, kadang hanya membaca tujuan, hipotesis, dan hasil (kesimpulan penelitian). Ada kalanya, pada bagian ini diberikan saran terhadap masalah-masalah baru untuk diteliti lebih lanjut.
Bagian penutup
Bagian penutup umumnya terdiri dari daftar pustaka, lampiran, dan indeks.
a. Daftar pustaka
Pada bagian ini disebutkan semua buku sumber yang digunakan sebagai penunjang dalam penulisan dan pelaksanaan penelitian. Hal-hal yang perlu dikemukakan adalah nama penulis, tahun penerbitan, judul buku, tempat penerbitan, dan nama penerbit.
b. Lampiran
Lampiran memuat hal-hal yang perlu diketahui pembaca. Biasanya meliputi hal-hal berikut.
- Contoh format kuesioner, wawancara, atau pengamatan.
- Dokumen penting lainnya, seperti foto atau naskah tertentu.
c. Indeks
Bagian ini berisi daftar kata, istilah, atau nama yang ada dalam laporan. Indeks biasanya disusun menurut abjad.
Jenis dan manfaat diskusi
Setelah penulisan laporan selesai disusun, biasanya, tahap selanjutnya adalah diskusi. Laporan tersebut didiskusikan dalam kelompok sebelum disajikan untuk kalangan yang lebih luas. Perlukah hasil tersebut perlu didiskusikan? Apa tujuannya?
Tujuan dari kegiatan diskusi adalah untuk memperkuat isi laporan itu sendiri. Dari diskusi tersebut, peneliti mungkin akan memperoleh banyak masukan tentang laporan penelitian yang telah disusunnya. Dengan demikian, laporan penelitian yang nantinya akan dipublikasikan adalah benar-benar laporan penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan.
Jenis Diskusi
Umumnya, terdapat tiga jenis diskusi, yakni diskusi panel, simposium, dan seminar.
1. Diskusi panel adalah sebuah diskusi yang dilakukan oleh sekelompok orang yang membahas satu topik yang menjadi perhatian umum. Dalam diskusi ini, biasanya dihadirkan beberapa pakar. Peserta diberikan kesempatan untuk bertanya. Diskusi ini bisa pula terjadi dalam siaran radio atau televisi.
2. Simposium adalah pertemuan yang diselenggarakan untuk membahas prasaran-prasaran mengenai suatu masalah. Simposium menghadirkan beberapa pembicara dengan tinjauan yang berbeda-beda. Diskusi dilakukan setelah masing-masing pembicara mengemukakan pendapatnya.
3. Seminar adalah pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu masalah di bawah pimpinan ketua sidang. Ketua sidang ini biasanya seorang pakar yang memiliki kompetensi di bidangnya. Seminar biasanya diakhiri dengan kesimpulan-kesimpulan pendapat semua pesertanya.
Selain itu, sebagai siswa dan siswi, Anda dapat berdiskusi mengenai berbagai macam hal. Dalam diskusi terdapat beberapa jenis kategori, yaitu sebagai berikut.
1. The social problem meeting. Pada diskusi ini, para siswa berdiskusi tentang masalah-masalah sosial di sekitarnya dengan harapan setiap siswa terpanggil untuk belajar dan bertingkah laku sesuai dengan norma yang berlaku.
2. The opened meeting. Pada diskusi ini para siswa berdiskusi tentang masalah apa saja yang berhubungan dengan kehidupan mereka.
3. The educational-diagnosis meeting. Pada diskusi ini, para siswa berdiskusi mengenai pelajaran di kelas dengan maksud saling mengoreksi pemahaman mereka sekaligus memperoleh pengetahuan yang baru dari anggota lainnya.
Pelaksanaan Diskusi Kelas
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan diskusi kelas adalah sebagai berikut.
1. Mengikutsertakan seluruh siswa dalam diskusi secara aktif.
2. Pembicaraan jangan sampai didominasi oleh beberapa orang saja.
3. Ketertiban dalam diskusi perlu dijaga, agar setiap siswa bersedia untuk mendengarkan apa yang sedang dibicarakan.
4. Dalam berdebat perlu terarah, agar tidak dipakai untuk mencari menang sendiri.
5. Setiap peserta diberi kepercayaan untuk turut serta dalam diskusi.
6. Dalam menyetujui dan menentang pendapat orang lain, para peserta diskusi harus menjaga etika sopan santun.
Sebelum diskusi dimulai perlu diperhatikan hal-hal teknis berikut ini.
1. Pilihlah salah satu di antara siswa untuk menjadi moderator atau pemimpin diskusi!
2. Pilihlah pula seorang siswa untuk menjadi presenter (pemapar), yaitu orang yang menyampaikan isi laporan yang akan didiskusikan!
3. Pilihlah pula seorang siswa untuk menjadi penanggap, yaitu orang yang menanggapi dan membahas isi laporan.
4. Pilihlah pula seorang siswa untuk menjadi notulen, yaitu orang yang mencatat pertanyaan, hal-hal penting selama diskusi, dan hasil-hasil diskusi.
5. Bila memungkinkan, bagikan makalah (laporan penelitian) kepada semua peserta diskusi.
Manfaat Diskusi
Diskusi akan memberikan manfaat seperti berikut ini.
1. Memupuk siswa agar berani mengeluarkan pendapat dengan bebas tanpa ada tekanan dari siapa pun.
2. Membina siswa agar dapat berpikir secara kritis dan kreatif serta menumbuhkan inovasi dalam dirinya.
3. Memupuk rasa toleransi dan menghargai pendapat orang lain.
4. Melatih siswa dalam mempraktikkan pengetahuan yang telah didapat di hadapan teman-temannya.
Tujuan dari kegiatan diskusi adalah untuk memperkuat isi laporan itu sendiri. Dari diskusi tersebut, peneliti mungkin akan memperoleh banyak masukan tentang laporan penelitian yang telah disusunnya. Dengan demikian, laporan penelitian yang nantinya akan dipublikasikan adalah benar-benar laporan penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan.
Jenis Diskusi
Umumnya, terdapat tiga jenis diskusi, yakni diskusi panel, simposium, dan seminar.
1. Diskusi panel adalah sebuah diskusi yang dilakukan oleh sekelompok orang yang membahas satu topik yang menjadi perhatian umum. Dalam diskusi ini, biasanya dihadirkan beberapa pakar. Peserta diberikan kesempatan untuk bertanya. Diskusi ini bisa pula terjadi dalam siaran radio atau televisi.
2. Simposium adalah pertemuan yang diselenggarakan untuk membahas prasaran-prasaran mengenai suatu masalah. Simposium menghadirkan beberapa pembicara dengan tinjauan yang berbeda-beda. Diskusi dilakukan setelah masing-masing pembicara mengemukakan pendapatnya.
3. Seminar adalah pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu masalah di bawah pimpinan ketua sidang. Ketua sidang ini biasanya seorang pakar yang memiliki kompetensi di bidangnya. Seminar biasanya diakhiri dengan kesimpulan-kesimpulan pendapat semua pesertanya.
Selain itu, sebagai siswa dan siswi, Anda dapat berdiskusi mengenai berbagai macam hal. Dalam diskusi terdapat beberapa jenis kategori, yaitu sebagai berikut.
1. The social problem meeting. Pada diskusi ini, para siswa berdiskusi tentang masalah-masalah sosial di sekitarnya dengan harapan setiap siswa terpanggil untuk belajar dan bertingkah laku sesuai dengan norma yang berlaku.
2. The opened meeting. Pada diskusi ini para siswa berdiskusi tentang masalah apa saja yang berhubungan dengan kehidupan mereka.
3. The educational-diagnosis meeting. Pada diskusi ini, para siswa berdiskusi mengenai pelajaran di kelas dengan maksud saling mengoreksi pemahaman mereka sekaligus memperoleh pengetahuan yang baru dari anggota lainnya.
Pelaksanaan Diskusi Kelas
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan diskusi kelas adalah sebagai berikut.
1. Mengikutsertakan seluruh siswa dalam diskusi secara aktif.
2. Pembicaraan jangan sampai didominasi oleh beberapa orang saja.
3. Ketertiban dalam diskusi perlu dijaga, agar setiap siswa bersedia untuk mendengarkan apa yang sedang dibicarakan.
4. Dalam berdebat perlu terarah, agar tidak dipakai untuk mencari menang sendiri.
5. Setiap peserta diberi kepercayaan untuk turut serta dalam diskusi.
6. Dalam menyetujui dan menentang pendapat orang lain, para peserta diskusi harus menjaga etika sopan santun.
Sebelum diskusi dimulai perlu diperhatikan hal-hal teknis berikut ini.
1. Pilihlah salah satu di antara siswa untuk menjadi moderator atau pemimpin diskusi!
2. Pilihlah pula seorang siswa untuk menjadi presenter (pemapar), yaitu orang yang menyampaikan isi laporan yang akan didiskusikan!
3. Pilihlah pula seorang siswa untuk menjadi penanggap, yaitu orang yang menanggapi dan membahas isi laporan.
4. Pilihlah pula seorang siswa untuk menjadi notulen, yaitu orang yang mencatat pertanyaan, hal-hal penting selama diskusi, dan hasil-hasil diskusi.
5. Bila memungkinkan, bagikan makalah (laporan penelitian) kepada semua peserta diskusi.
Manfaat Diskusi
Diskusi akan memberikan manfaat seperti berikut ini.
1. Memupuk siswa agar berani mengeluarkan pendapat dengan bebas tanpa ada tekanan dari siapa pun.
2. Membina siswa agar dapat berpikir secara kritis dan kreatif serta menumbuhkan inovasi dalam dirinya.
3. Memupuk rasa toleransi dan menghargai pendapat orang lain.
4. Melatih siswa dalam mempraktikkan pengetahuan yang telah didapat di hadapan teman-temannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)